Yen Jepang berada di bawah tekanan menyusul meningkatnya ketidakpastian politik domestik dan arah kebijakan Bank of Japan (BoJ). Laporan mengenai kemungkinan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menggelar pemilu umum lebih awal menambah kekhawatiran pasar.
Sementara itu, tidak pastinya waktu kenaikan suku bunga oleh BoJ terus membebani mata uang Jepang tersebut. Meski demikian, meningkatnya ketegangan geopolitik global berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe-haven dan membatasi pelemahan yen lebih lanjut.
Yen masih melemah terhadap dolar AS, meskipun dolar secara umum masih melemah, sehingga mendorong pasangan USDJPY ke area 158,00, level yang sebelumnya tercapai menjelang penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Pasangan USDJPY saat ini stabil di kisaran 158,05 setelah dibuka dari level 158,06 dan sempat menyentuh level terendah intraday di 157.50.
Tekanan terhadap yen semakin meningkat seiring memburuknya hubungan Jepang–China serta spekulasi terkait pemilu dini yang berpotensi memperpanjang ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter Jepang. Di sisi lain, ketidakpastian kapan kenaikan BoJ akan menaikkan suku bunga, menjadi pendorong utama melemahnya yen.
Meski demikian, risiko eskalasi ketegangan geopolitik global dapat memberikan bantalan bagi yen, sebagai mata uang safe-haven. Sementara, dolar AS masih menghadapi tekanan atas meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi Federal Reserve (Fed). Sentimen ini berpotensi membatasi penguatan USDJPY, terutama menjelang rilis data inflasi AS yang menjadi fokus utama pasar pada pekan ini.
Secara keseluruhan, meskipun faktor fundamental jangka pendek masih cenderung menekan yen, kombinasi risiko geopolitik dan pelemahan sentimen terhadap dolar AS dapat menahan pergerakan USDJPY agar tidak naik terlalu agresif dalam waktu dekat.




