Deflasi China Ancam Harga Komoditas

JAVAFX – Edward Moya, dari OANDA kepada JAVAFX News menyatakan bahwa ada potensi ancaman dari deflasi China pada harga komoditas seperti emas dan minyak mentah. Menurutnya perhatian pasar akan beralih pada sentiment fundamental yang lebih presisi, yaitu potensi deflasi China.

Gold Trading

Sebagaimana terlihat bahwa pasar nampak lelah dengan perang dagang AS – China yang berlarut-larut. Berita suram yang tersiar tidak lagi mengejutkan pasar. Terbaru, AS memutuskan menunda lisensi Huawei. China membalas dengan membiarkan Yuan melemah, meski kemudian mematoknya. Pasar keuangan melihat lebih dalam dari sekedar perang retorika, dimana data terkini menunjukkan ekspor Cina ke AS jatuh meski permintaan telah stabil di tempat lain.

Bank Sentral China, PBOC menjadi lebih peduli tentang PPI yang jatuh ke wilayah negatif, untuk pertama kali terjadi di sana dalam tiga tahun ini. Profitabilitas untuk perusahaan industri akan terpukul dan prospek kerugian akan meluas. Prospek harga produsen tidak akan meniru apa yang terjadi pada tahun 2012 yang berakhir dengan pertumbuhan global yang lambat selama empat tahun. Kasus untuk pelonggaran yang ditingkatkan dari PBOC sedang membangun karena deflasi pabrik merupakan masalah besar bagi mereka, tetapi langkah apa yang mungkin akan ditempuh tidak akan terlihat sampai diketahui perkembangan perang dagang dalam beberapa minggu ke depan.

Deflasi yang demikian ini tentu semakin memburamkan masa depan ekonomi global. Tak pelak permintaan energi dan emas akan terganggu. Sesuatu yang sejak awal telah dicermati dan diantisipasi, namun masih menimbulkan kekhawatiran saat deflasi ini benar-benar terjadi.

Sehingga ketika harga minyak mentah terpengaruh dan jatuh tajam , tak mengherankan bila Arab Saudi melakukan gerak cepat dalam meredam jatuhnya harga lebih lanjut. Arab Saudi melakukan segala yang mereka bisa untuk menstabilkan harga minyak. Terbukti, harga sempat menguat sebentar setelah sinyal Arab Saudi, dimana mereka akan membatasi ekspor bulan depan.

Minyak mentah telah jatuh ke posisi terendah tujuh bulan dan aksi jual yang berasal dari anjloknya kekhawatiran permintaan dan ledakan tak terduga dengan stok AS bisa kembali dilanjutkan setelah tekanan singkat ini berakhir. Rebound minyak secara tentatif bisa berumur pendek karena sengketa perdagangan AS-China tidak memberikan alasan nyata untuk optimis dan tidak mungkin para menteri energi akan datang dengan sesuatu sebelum pertemuan terencana berikutnya yang tidak sampai minggu kedua September.

Sementara dalam perdagangan komoditas lainnya, harga emas tampaknya lebih kebal terhadap selera risiko dan segala perkembangan positif dalam perang perdagangan AS-Cina. Pasar keuangan mungkin bereaksi berlebihan dengan penetapan harian PBOC atas yuan, yang tidak seburuk yang diperkirakan sebagian besar ekonom.

Hari ini, emas yang awalnya dijual kemudian berbalik menjadi lebih optimis setelah China menegaskan hanya akan mendepresiasi yuan mereka secara perlahan-lahan. Disisi lain ada pembacaan yang kuat dari pasar tenaga kerja AS. Dengan begitu banyak utang yang menghasilkan sentiment negatif di luar sana, emas hanya mengalami koreksi tipis. Tidak terlihat aksi jual besar kecuali kita melihat terobosan besar dengan pembicaraan perdagangan. (WK)