Pound lagi goyah, sementara Yen justru makin perkasa.
Pertanyaannya, GBPJPY masih kuat bertahan atau siap breakdown?
Berikut artikel berita ekonomi terupdate yang menjelaskan faktor-faktor fundamental penting yang sedang memengaruhi pergerakan harga GBP/JPY pada 13 Februari 2026.
GBP/JPY Menguat Tipis di Tengah Tekanan Ekonomi & Yen Masih Kuat
Pada perdagangan 13 Februari 2026, pasangan mata uang GBP/JPY bergerak di sekitar 207.8 – 208.77, menunjukkan tekanan volatilitas di pasar forex global. Pergerakan ini tidak lepas dari beberapa faktor fundamental penting yang mempengaruhi kedua sisi mata uang, British Pound (GBP) dan Japanese Yen (JPY).
1. Kekuatan Yen Jepang Menekan GBP/JPY
Yen Jepang menunjukkan performa kuat dalam beberapa sesi terakhir, ditandai dengan apresiasi signifikan terhadap mata uang utama seperti dolar AS dan bahkan pound Inggris. Kenaikan ini terjadi setelah sentimen risiko global meningkat dan investor mencari aset haven seperti JPY.
Selain itu, hasil pemilu Jepang yang memberikan mayoritas kuat kepada Perdana Menteri Sanae Takaichi telah meningkatkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas politik Jepang dan kredibilitas fiskalnya. Spekulasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) juga ikut mendorong permintaan terhadap Yen.
Data ekonomi terkini menunjukkan bahwa penguatan ini membuat GBP/JPY mengalami tekanan turun dalam beberapa hari terakhir, termasuk mencapai posisi terendah dua bulan sebelum sedikit rebound.
2. Data GDP Inggris yang Lebih Lemah dari Ekspektasi
Di sisi fundamental Pound Inggris, data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB Inggris yang hanya 0.1% pada kuartal terakhir , lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memproyeksikan sekitar 0.2%. Hasil tersebut mencerminkan momentum ekonomi Inggris yang lebih lambat dan telah melemahkan nilai GBP terhadap JPY.
Penurunan output industri dan produksi manufaktur yang mengecewakan juga meningkatkan kekhawatiran investor mengenai prospek pertumbuhan Inggris, yang secara langsung menekan sterling terhadap mata uang safe-haven seperti Yen.
3. Ekspektasi Kebijakan Bank Sentral Jepang vs BoE
- Bank of Japan (BoJ) saat ini dipandang semakin mungkin untuk menormalisasi kebijakan moneternya setelah periode ultra-longgar, terutama jika inflasi domestik menunjukkan tanda-tanda stabil di atas target. Hal ini mendukung prospek penguatan JPY.
- Bank of England (BoE), di sisi lain, masih menghadapi tekanan domestik dari pertumbuhan ekonomi yang lemah dan ketidakpastian politik. Ini menimbulkan spekulasi bahwa BoE bisa mempertimbangkan pemangkasan suku bunga pada masa depan, yang menekan GBP lebih jauh.
Kombinasi kebijakan ini menciptakan divergence yang cenderung memperkuat JPY sementara melemahkan GBP — faktor yang berkontribusi besar terhadap tekanan turun pasangan GBP/JPY.
4. Tekanan Sentimen Pasar & Risiko Global
Sentimen risiko global juga memainkan peran besar dalam pergerakan pasangan ini. Pada periode risiko aversi (risk-off), investor lebih cenderung memindahkan modal ke aset safe-haven seperti Yen, sehingga meningkatkan permintaan JPY dan memberi tekanan pada GBP/JPY.
Kesimpulan Fundamental
- Yen Jepang menguat kuat akibat sentimen risiko global dan kemungkinan normalisasi kebijakan BoJ.
- Pound Inggris melemah karena data ekonomi yang mengecewakan, terutama GDP serta tekanan domestik dari kebijakan moneter BoE.
- Divergence antara BoJ & BoE terus menjadi katalis utama yang mengarahkan pasangan GBP/JPY ke bawah, meskipun terdapat volatilitas intraday.
- Sentimen market risk-off memperkuat Yen sebagai aset safe-haven, menambah tekanan fundamental pada pasangan ini.




