Harga minyak mentah dunia kembali melemah, termasuk minyak West Texas Intermediate (WTI), setelah sebelumnya naik tajam lebih dari 3% pada sesi perdagangan kemarin. Penurunan harga ini disebabkan oleh meningkatnya persediaan minyak dunia, yang kembali memicu kekhawatiran akan kelebihan pasokan di pasar global.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari situasi perdagangan minyak Venezuela. Beberapa perusahaan besar seperti Chevron, Vitol, dan Trafigura tengah bersaing untuk mendapatkan kontrak dari pemerintah Amerika Serikat guna mengekspor hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela. Minyak tersebut berasal dari cadangan PDVSA yang menumpuk, di tengah proses negosiasi terkait kelanjutan ekspor Venezuela.
Meski harga saat ini melemah, peluang kenaikan minyak masih terbuka. Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung, terutama yang melibatkan Venezuela dan Iran, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan di masa depan. Pasar juga terus memantau sikap dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dapat memengaruhi aliran pasokan energi dunia.
Selain itu, isu sanksi internasional turut menambah ketidakpastian. Presiden AS mendukung kelanjutan rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia, yang dapat menargetkan negara-negara pembeli minyak Rusia dengan harga murah. Jika diterapkan, kebijakan ini berpotensi mengganggu perdagangan minyak global.
Langkah Amerika Serikat yang menyita kapal tanker minyak terkait Venezuela menunjukkan upaya serius untuk memperketat pengawasan dan penegakan sanksi energi. Kondisi kelebihan pasokan saat ini, ditambah risiko geopolitik ke depan, membuat pergerakan harga minyak tetap tidak stabil dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik global.
Sementara itu, harga minyak Brent tercatat di kisaran USD 62,39 per barel, sedangkan WTI berada di sekitar USD 58,11 per barel. Kedua harga acuan tersebut naik lebih dari 3% pada Kamis, setelah dua hari berturut-turut mengalami penurunan. Secara mingguan, Brent diperkirakan naik sekitar 2,7%, sementara WTI menguat sekitar 1,4%.




