Harga minyak mentah melemah dari level tertinggi dalam beberapa bulan pada perdagangan Kamis, seiring meredanya kekhawatiran pasar terkait potensi aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Pelemahan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menenangkan sentimen geopolitik.
Kontrak berjangka Brent tercatat turun sekitar 3,4% ke level USD 64,25 per barel, sementara kontrak berjangka Nymex juga melemah 3,4% ke USD 59,89 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak tersebut sempat melonjak hingga masing-masing USD 66,82 dan USD 62,36 pada sesi sebelumnya.
Pada Rabu sore, Trump menyatakan bahwa ia menerima laporan mengenai meredanya aksi pembunuhan dalam penindasan protes nasional di Iran. Ia juga menegaskan bahwa saat ini tidak ada rencana untuk melakukan eksekusi massal, pernyataan yang langsung menurunkan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi fundamental. Laporan mingguan Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah AS meningkat sebesar 3,391 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Januari. Kenaikan ini berbalik arah dari penurunan sebesar 3,831 juta barel pada pekan sebelumnya.
Selain itu, Venezuela dilaporkan mulai melonggarkan pemotongan produksi minyak yang sebelumnya diberlakukan di bawah embargo AS. Ekspor minyak mentah dari negara tersebut terus berlanjut, dengan pendapatan dari pengiriman pertama—yang diperkirakan mencapai sekitar USD 500 juta—disimpan di rekening bank yang dikendalikan oleh pemerintah AS, menurut seorang pejabat pemerintah.




