Javafx.news – Pergerakan menguatnya pasangan USDJPY dalam beberapa sesi terakhir mencerminkan kombinasi tekanan fundamental terhadap yen Jepang serta dukungan kuat dari dolar AS. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang yang memburuk, ditambah meningkatnya ketidakpastian politik menjelang pemilu nasional mendadak, terus menggerus kepercayaan investor terhadap mata uang Jepang.
Situasi ini diperparah oleh rencana fiskal ekspansif yang digulirkan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap bertambahnya beban utang pemerintah Jepang. Dengan posisi fiskal yang sudah rapuh, kebijakan ekspansif tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko jangka panjang terhadap stabilitas keuangan negara. Akibatnya, yen semakin kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven.
Ketidakpastian politik menjelang pemilu mendadak pada 8 Februari turut memperburuk sentimen. Pasar cenderung menghindari aset yang berasal dari negara dengan risiko kebijakan yang tidak jelas, sehingga tekanan jual terhadap yen semakin intensif. Kombinasi risiko fiskal dan politik ini menciptakan pelemahan struktural terhadap mata uang Jepang.
Di sisi lain, dolar AS terus menunjukkan kekuatan yang solid. Pemulihan greenback dari level terendah empat tahun sebelumnya didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang tetap ketat. Pernyataan hawkish dari Gubernur Fed Lisa Cook, yang menekankan risiko inflasi yang masih condong ke arah kenaikan, memperkuat spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Fokus pasar terhadap rilis data tenaga kerja AS semakin memperkuat daya tarik dolar sebagai aset berimbal hasil tinggi. Prospek ekonomi AS yang relatif lebih kuat dibandingkan Jepang membuat arus modal global cenderung mengalir ke dolar, sehingga memperlebar divergensi fundamental antara kedua mata uang.
Dari sisi Jepang, pelemahan data inflasi konsumen Tokyo terbaru turut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat oleh Bank of Japan. Meskipun BoJ masih berada dalam jalur normalisasi kebijakan moneternya, laju yang lambat ini kontras dengan ketegasan sikap The Fed, sehingga mempersempit daya saing imbal hasil aset berbasis yen.
Namun demikian, potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menahan depresiasi yen tetap menjadi faktor pembatas pelemahan lebih lanjut. Spekulasi ini membuat sebagian pelaku pasar lebih berhati-hati dalam memperbesar posisi jual yen secara agresif.
USDJPY saat ini mengalami konsolidasi setelah kenaikan tajam dalam empat hari terakhir, diperdagangkan di sekitar level 156.83 setelah dibuka dari 156.82 dan sedikit di bawah level atas intraday 156.97. Pergerakan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap kombinasi tekanan fundamental yang terus memengaruhi yen dan kekuatan dolar AS.
Secara fundamental, penguatan USDJPY saat ini mencerminkan tekanan yang semakin dalam terhadap yen Jepang akibat kombinasi risiko fiskal yang memburuk dan ketidakpastian politik domestik, sementara dolar AS tetap mendapat dukungan kuat dari prospek suku bunga tinggi yang lebih lama di tengah ketahanan ekonomi Amerika Serikat. Rencana fiskal ekspansif pemerintah Jepang memperbesar kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan utang negara, memperlemah daya tarik yen sebagai aset safe haven, sementara sikap hawkish Federal Reserve memperlebar divergensi kebijakan moneter antara AS dan Jepang. Selama faktor-faktor ini bertahan, bias fundamental USDJPY cenderung tetap mengarah pada penguatan.
Dalam jangka pendek, pergerakan USDJPY akan sangat dipengaruhi oleh rilis data tenaga kerja AS serta komunikasi lanjutan dari pejabat Federal Reserve yang berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi. Volatilitas juga kemungkinan meningkat seiring spekulasi intervensi pemerintah Jepang yang dapat memicu koreksi teknikal sementara, meskipun tekanan fundamental terhadap yen masih dominan.
Sementara dalam jangka menengah, arah USDJPY tetap condong bullish selama Jepang belum menunjukkan perbaikan nyata pada stabilitas fiskal dan kejelasan politik, serta selama Bank of Japan mempertahankan normalisasi kebijakan yang jauh lebih lambat dibandingkan The Fed. Jika divergensi imbal hasil terus melebar dan kepercayaan investor terhadap yen tetap tertekan, maka potensi kelanjutan tren naik USDJPY masih terbuka, meskipun dengan fase konsolidasi di sepanjang perjalanannya.




