Reli Agresif Berlanjut, Mungkinkah XAUUSD Sentuh Level 5500?

0
8

XAUUSD menunjukkan performa luar biasa di awal 2026. Logam mulia ini bukan hanya memperbarui harga tertinggi sepanjang masanya di level 5111 pada perdagangan Senin (26/01), tetapi juga mencatat kenaikan bulanan sebesar 18%, lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pergerakan emas modern.

Reli tajam ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: sejauh mana penguatan emas mampu dipertahankan? Apakah tren bullish akan berlanjut atau justru memasuki fase koreksi dalam waktu dekat? Untuk menjawabnya, investor perlu melihat lebih dalam pada dinamika fundamental global yang saat ini tengah membentuk arah pasar.

Dalam enam bulan terakhir, emas bergerak sangat agresif dengan terus mencetak rekor harga baru. Pergerakan ini erat kaitannya dengan fluktuasi dolar AS, penurunan yield obligasi, serta meningkatnya volatilitas pasar saham global, tiga indikator utama yang mencerminkan perubahan besar dalam sentimen risiko dunia.

Sentimen Risk Penggerak Emas

Kenaikan emas saat ini pada dasarnya merupakan refleksi dari pergeseran besar perilaku investor global menuju mode risk aversion. Ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat secara bersamaan, pasar cenderung meninggalkan aset berisiko dan memburu instrumen perlindungan nilai, dengan emas sebagai tujuan utama arus modal.

Fenomena ini diperkuat oleh eskalasi geopolitik global, mulai dari konflik Rusia–Ukraina yang belum mereda hingga meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut menciptakan atmosfer defensif di pasar keuangan internasional.

Situasi semakin kompleks dengan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin sulit diprediksi. Pernyataan Presiden Donald Trump tidak lagi dipandang sebagai sekadar retorika politik, melainkan sumber risiko nyata bagi stabilitas pasar. Ancaman tarif tinggi terhadap Kanada dan Prancis, serta manuver agresif terkait Greenland, memperkuat persepsi bahwa kebijakan global AS bergerak impulsif dan penuh kejutan.

Bagi pasar, risiko masih dapat dihitung dan dikelola, tetapi ketidakpastian struktural jauh lebih berbahaya. Ketika arah kebijakan dunia menjadi tidak konsisten, investor secara alami mengalihkan modal ke aset yang tidak bergantung pada stabilitas politik mana pun. Dalam konteks ini, emas kembali menegaskan posisinya sebagai safe haven utama sistem keuangan global.

Inflasi AS dan Global Menguatkan Daya Tarik Emas

Selain faktor geopolitik, tekanan inflasi tetap menjadi pendorong penting reli emas. Meski inflasi AS dan global mulai melandai dari puncaknya, level harga masih berada di atas target jangka panjang bank sentral. Biaya energi, upah tenaga kerja, serta gangguan rantai pasok global membuat risiko inflasi persisten tetap tinggi.

Secara historis, emas memiliki korelasi positif dengan periode inflasi tinggi maupun inflasi yang tidak stabil. Ketika daya beli mata uang fiat tergerus, investor beralih ke emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Kondisi ini kini terjadi secara global, bukan hanya di Amerika Serikat.

Tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali menciptakan dilema kebijakan bagi bank sentral: mempertahankan suku bunga tinggi berisiko memperdalam perlambatan ekonomi, sementara pelonggaran terlalu cepat berpotensi memicu lonjakan harga baru.

Kebijakan Moneter dan Penurunan Yield Riil

Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve menjadi katalis besar penguatan emas. Ketika suku bunga diproyeksikan turun, imbal hasil obligasi ikut melemah, khususnya yield riil yang telah disesuaikan inflasi.

Penurunan yield riil secara historis merupakan salah satu faktor paling bullish bagi emas. Di saat yang sama, pelemahan dolar AS membuat emas lebih murah bagi pembeli global dan meningkatkan permintaan internasional.

Kombinasi yield riil yang menurun, dolar yang melemah, serta meningkatnya ketidakpastian global menciptakan lingkungan makro yang sangat kondusif bagi reli emas saat ini.

Permintaan Struktural Semakin Kuat

Di luar sentimen pasar jangka pendek, emas juga mendapat dukungan kuat dari perubahan struktural permintaan global. Bank sentral, khususnya dari negara berkembang, terus menambah cadangan emas sebagai strategi diversifikasi dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS.

Permintaan ini bersifat jangka panjang dan relatif tidak sensitif terhadap volatilitas harga harian, sehingga menjadi fondasi fundamental yang kokoh bagi tren kenaikan emas.

Dari sisi investasi, arus dana ke ETF emas dan instrumen derivatif juga meningkat signifikan, menunjukkan bahwa reli ini didorong oleh partisipasi institusional besar, bukan sekadar spekulasi ritel.

Outlook Fundamental: Bullish atau Bearish?

Secara fundamental, tren emas masih condong bullish selama fase Risk-Aversion global bertahan. Penguatan berpotensi berlanjut apabila inflasi tetap persisten, bank sentral mulai melonggarkan kebijakan, risiko resesi meningkat, dan ketegangan geopolitik belum mereda.

Dalam skenario ini, emas berpeluang memasuki fase penguatan struktural jangka panjang dengan koreksi yang relatif terbatas.

Namun potensi koreksi tetap terbuka. Tekanan terhadap emas dapat muncul jika inflasi turun cepat menuju target bank sentral, ekonomi global menunjukkan pemulihan kuat, suku bunga bertahan tinggi lebih lama, serta sentimen pasar kembali ke mode risk-on. Meredanya konflik geopolitik juga dapat mengurangi permintaan safe haven dalam jangka pendek.

Dapat disimpulkan, bahwa kenaikan panjang emas awal 2026 yang melanjutkan kenaikan dalam enam bulan terakhir ini, bukanlah fenomena sesaat, melainkan hasil kombinasi kuat antara Risk-Aversion global, tekanan inflasi yang belum sepenuhnya jinak, pergeseran kebijakan moneter, serta permintaan struktural bank sentral.

Selama dunia masih berada dalam fase ketidakpastian ekonomi dan politik yang tinggi, emas akan tetap mempertahankan posisinya sebagai aset lindung nilai utama. Koreksi jangka pendek mungkin terjadi, tetapi secara fundamental tren emas masih berada dalam jalur penguatan jangka menengah hingga panjang. (AhmDy)