Sejauh Mana Spekulasi Intervensi Jepang Menahan Kenaikan USDJPY?

0
75

Pasangan mata uang USDJPY menghentikan penguatan beruntunnya setelah sempat menguat pada pembukaan perdagangan awal pekan. Yen Jepang sempat menyentuh level terendah dalam dua minggu menyusul kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal Jepang.

Peringatan intervensi dari pemerintah Jepang sempat memicu volatilitas intraday di tengah pelemahan dolar AS. Namun, penyusutan upah riil Jepang kembali meredam spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dalam waktu dekat, sehingga membatasi ruang penguatan yen.

Yen mengawali pekan dengan tekanan akibat kemenangan Takaichi yang membuka peluang stimulus fiskal lanjutan. Reaksi pasar tersebut tidak bertahan lama setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan kembali peringatan intervensi dan mengonfirmasi koordinasi erat dengan Amerika Serikat untuk mencegah pergerakan nilai tukar yang berlebihan.

Kombinasi peringatan tersebut dan berlanjutnya aksi jual dolar AS mendorong pembalikan arah USDJPY hampir 150 pips dari puncak sesi Asia di sekitar 157,65. Saat ini, pasangan tersebut diperdagangkan di kisaran 156,70, turun tajam dari level pembukaan awal pekan di sekitar 157,53.

Data terbaru menunjukkan upah riil Jepang kembali menyusut pada Desember karena pertumbuhan upah nominal masih tertinggal dari inflasi. Kondisi ini membuat BoJ tetap bersikap hati-hati meski telah menaikkan suku bunga, sementara sentimen pasar global yang membaik turut menahan penguatan yen sebagai aset safe-haven.

Di sisi lain, pelaku pasar yang sebelumnya optimis terhadap penguatan yen mulai meragukan prospeknya. Masalah fiskal Jepang dan potensi penundaan kenaikan suku bunga BoJ dinilai memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan ancaman intervensi pemerintah di pasar valuta asing.

Kemenangan bersejarah Sanae Takaichi dan Partai Demokrat Liberal (LDP), yang mengamankan lebih dari 233 kursi untuk mayoritas di Dewan Rendah, membuka jalan bagi pemotongan pajak dan penguatan sistem pertahanan. Namun, hal ini sekaligus meningkatkan sorotan terhadap kondisi keuangan publik Jepang yang sudah tertekan.

Sementara itu, dolar AS melemah untuk hari kedua berturut-turut di tengah spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga pada 2026. Perbedaan ekspektasi kebijakan moneter antara The Fed dan BoJ membatasi potensi kenaikan USDJPY dan mendorong kehati-hatian di kalangan pembeli.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada Rabu, diikuti oleh data inflasi konsumen AS pada Jumat. Kedua rilis tersebut berpotensi menjadi katalis utama pergerakan dolar AS dan pasangan USDJPY pada paruh kedua pekan ini.