Dolar Australia menguat signifikan terhadap dolar AS dan mencatatkan kenaikan terkuat dalam tiga minggu terakhir. Penguatan ini didorong oleh solidnya data ekonomi domestik Australia yang semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA). Di sisi lain, meningkatnya sentimen risk aversion global turut menekan pergerakan dolar AS.
Pada perdagangan Jumat, AUDUSD melanjutkan reli untuk hari kelima berturut-turut. Pasangan mata uang ini diperdagangkan di kisaran 0,6848, menguat sejak pembukaan perdagangan dan semakin terdorong naik setelah rilis data PMI Australia yang positif.
Berdasarkan laporan awal S&P Global, Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Australia tercatat naik menjadi 52,4 pada Januari dari 51,6 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, PMI sektor Jasa melonjak ke level 56,0 dari 51,1, dan PMI Komposit meningkat signifikan menjadi 55,5 dibandingkan 51,0 sebelumnya. Data ini menunjukkan ekspansi aktivitas bisnis yang semakin solid di awal tahun.
Rilis data PMI yang kuat tersebut semakin memperkuat peluang kebijakan moneter yang lebih ketat dari RBA, sejalan dengan data ketenagakerjaan Australia yang dirilis pada Kamis. Jumlah lapangan kerja bertambah 65,2 ribu pada Desember, berbalik arah dari penurunan 28,7 ribu pada bulan sebelumnya (direvisi dari penurunan 21,3 ribu), serta jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 30 ribu. Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,1% dari 4,3%, lebih baik dibandingkan perkiraan pasar di 4,4%.
Selain faktor domestik Australia, penguatan AUDUSD turut dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen risk aversion, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait isu Greenland. Meski demikian, sentimen pasar sempat membaik setelah Donald Trump melunakkan sikapnya usai tercapainya kesepakatan kerangka kerja dengan NATO terkait potensi kerja sama di masa mendatang mengenai wilayah tersebut.




