Pergerakan USDJPY saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mencatat kenaikan pada sesi perdagangan sebelumnya. Dinamika ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor fundamental yang menekan yen Jepang dan faktor eksternal yang membatasi penguatan dolar AS. Ketidakpastian kebijakan moneter, risiko fiskal Jepang, serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi utama AS menjadi latar belakang utama pergerakan pasangan mata uang ini.
Di satu sisi, yen masih berada di bawah tekanan. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang kembali mencuat setelah pemerintah menyetujui anggaran jumbo senilai ¥122,3 triliun. Beban utang yang semakin besar memunculkan spekulasi meningkatnya penerbitan obligasi, yang secara struktural kurang mendukung penguatan yen dalam jangka pendek. Sentimen risiko global yang relatif positif juga mengurangi minat terhadap aset safe haven seperti yen.
Namun, pelemahan yen sejauh ini masih terbatas. Pasar belum sepenuhnya yakin bahwa yen akan kembali melemah tajam, terutama karena ketidakpastian langkah Bank of Japan ke depan. Inflasi Jepang diperkirakan tetap terkendali, didukung oleh subsidi energi, harga pangan yang stabil, serta harga minyak yang relatif rendah. Kondisi ini membuat BoJ tidak berada dalam posisi terdesak untuk segera menaikkan suku bunga secara agresif.
Meski demikian, arah kebijakan BoJ secara perlahan tetap menuju normalisasi. Pernyataan Gubernur Kazuo Ueda yang kembali menegaskan kesiapan bank sentral untuk menaikkan suku bunga jika kondisi ekonomi dan harga sesuai proyeksi memberi sinyal bahwa siklus ultra-longgar Jepang sudah benar-benar berakhir. Ini menjadi faktor yang menahan tekanan jual terhadap yen, sekaligus membuat pelaku pasar lebih berhati-hati membuka posisi long USDJPY di level tinggi.
Dari sisi dolar AS, momentum penguatan juga tidak sepenuhnya solid. Ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga lebih lanjut masih mendominasi sentimen pasar. Selain itu, isu independensi The Fed di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump ikut menambah ketidaknyamanan investor terhadap dolar, terutama dalam perspektif menengah.
Pasar kini cenderung menunggu katalis berikutnya dari data ekonomi AS. Rilis ADP Employment, ISM Services PMI, dan JOLTS Job Openings dapat memicu pergerakan jangka pendek, tetapi fokus utama tetap pada laporan Nonfarm Payrolls pada Jumat. Data tenaga kerja tersebut berpotensi menjadi penentu arah USDJPY dalam waktu dekat.
Jika NFP kembali menunjukkan pasar tenaga kerja yang solid, dolar AS bisa mendapatkan dukungan sementara dan mendorong USDJPY mencoba naik kembali. Sebaliknya, data yang melemah akan memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed dan membuka ruang koreksi USDJPY, terutama menjelang rilis data inflasi AS pekan depan.
Kesimpulannya, USDJPY masih berada dalam fase menunggu arah. Tekanan terhadap yen belum cukup kuat untuk memicu pelemahan lanjutan, sementara dolar AS juga kehilangan katalis kuat untuk melanjutkan reli. Selama belum ada kejutan dari data AS atau sinyal kebijakan yang lebih tegas dari BoJ maupun The Fed, pergerakan USDJPY cenderung tetap terbatas dengan volatilitas yang bisa meningkat di sekitar rilis data utama.




