Yen Jepang kembali mencatat penurunan seiring melemahnya data inflasi konsumen Tokyo yang meredam harapan terhadap kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan BoJ dalam waktu dekat. Masalah fiskal dan ketidakpastian politik di Jepang juga menekan yen. Namun kekhawatiran atas independensi Federal Reserve (Fed) mungkin dapat membatasi pemulihan dolar AS dan menahan kenaikan pasangan mata uang USDJPY lebih lanjut.
Laporan pemerintah dirilis pada Jumat pagi menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (CPI) utama Tokyo, turun menjadi 1,5% pada Januari dari laporan sebelumnya 2,0%, terendah sejak Februari 2022. Selain itu, CPI inti, tidak termasuk harga makanan turun menjadi 2% dari 2,3% pada Desember. Data ini mengurangi urgensi bagi Bank of Japan untuk memperketat kebijakan moneternya lebih lanjut, setelah keputusan Desember untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 0,75%, atau level tertinggi dalam 30 tahun.
Selain itu, kekhawatiran tentang kesehatan keuangan Jepang di tengah kebijakan reflasi Perdana Menteri Sanae Takaichi dan ketidakpastian politik menjelang pemilu dadakan pada 8 Februari juga turut menekan bersama dengan menguatnya dolar AS, yang mendorong pasangan USDJPY melampaui level 154.00 menjelang sesi Eropa pada Jumat. USDJPY hari ini dibuka dari level 153.07 dan saat ini diperdagangkan di sekitar level 153.77.
Di sisi lain, spekulasi bahwa upaya campur tangan otoritas Jepang untuk menghentikan pelemahan yen lebih lanjut kemeungkinan masih akan menjadi faktor yang menahan kenaikan USDJPY lebih lanjut. Selain itu, risiko ekonomi terkait dari ancaman tarif oleh Presiden AS Donald Trump dan ketidakpastian geopolitik lainnya dan kekhawatiran pasar tentang kebijakan Federal Reserve AS (Fed) serta taruhan penurunan suku bunga, seharusnya dapat membatasi kenaikan pasangan USDJPY lebih lanjut.




