Hati-Hati! GBPJPY Terlihat Lemah, Padahal Breakout Bisa Picu Rally Tajam

0
382

“Banyak trader lihat GBPJPY turun dan langsung mikir lanjut anjlok. Tapi hati-hati… karena secara teknikal market lagi ranging, dan sekali resistance jebol, lonjakannya bisa brutal!”

Berikut artikel berita ekonomi terbaru yang menjelaskan faktor-faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan GBP/JPY pada 19 Februari 2026, fokusnya pada kondisi makro, kebijakan moneter, data ekonomi serta sentimen pasar yang menjadi katalis pasangan mata uang ini.



Berita Ekonomi & Faktor Fundamental yang Memengaruhi GBP/JPY – 19 Februari 2026;

Yen Jepang Kuat dan Menekan GBP/JPY

Pergerakan GBP/JPY akhir-akhir ini mengalami tekanan utama dari penguatan Yen Jepang (JPY). Yen kembali menunjukkan kekuatan karena pasar melihatnya sebagai aset safe haven di tengah kondisi pasar yang rentan, meskipun volatilitas masih rendah karena banyak bursa Asia libur Tahun Baru Imlek. Kekuatan Yen memberikan tekanan jelas pada pasangan mata uang yang sering bergerak sangat sensitif terhadap sentimen risiko seperti GBP/JPY.

Permintaan yen sebagai safe haven meningkat, Yen menguat terhadap mayoritas mata uang termasuk GBP. Sentimen risiko global (risk-off) mendorong permintaan Yen.


Pound Sterling Melemah karena Data & Sentimen Inggris

Sisi lain dari pergerakan GBP/JPY adalah fundamental Sterling Inggris (GBP) yang menunjukkan kelemahan relatif. Pound berada di bawah tekanan karena berbagai isu internal ekonomi Inggris, termasuk data ekonomi yang kurang kuat dan prospek kebijakan Bank of England yang cenderung dovish. Hal ini membuat Pound kurang menarik dibanding Yen yang kuat.

 
Pound melemah terhadap mata uang utama karena kekhawatiran ekonomi Inggris. Ekspektasi pasar bahwa Bank of England (BoE) bisa memangkas suku bunga atau tetap dovish telah menekan Sterling.

Ekspektasi Kebijakan Moneter & Divergensi Bank Sentral

Perbedaan kebijakan moneter antara Bank of Japan (BoJ) dan bank sentral lain seperti BoE menjadi katalis penting dalam arah pergerakan GBP/JPY. Meski BoJ sangat berhati-hati dalam mengubah kebijakan, kekuatan data dan permintaan Jepang memberi peluang bahwa pasar mulai membayar Yen lebih tinggi. Sementara itu, BoE menghadapi tekanan pelonggaran (dovish) karena data Inggris terlihat kurang kuat.

Ekspektasi Normalisasi BoJ mendukung Yen. BoE dovish bias memperlemah Pound dibanding Yen.

Data Ekonomi Global dan Sentimen Risiko Terus Menjadi Katalis

Pergerakan mata uang seperti GBP/JPY tidak lepas dari sentimen risiko global. Ketika pasar global bergerak ke risk-off, investor mencari tempat aman seperti Yen Jepang. Selain itu, rotasi modal terhadap aset lain (mis. saham teknologi, obligasi) juga memengaruhi arus modal dari GBP ke Yen.

Risk-off sentiment mendukung penguatan Yen secara signifikan. Arus modal global mengalir ke instrumen aman, meninggalkan pound.


Secara garis besar,

GBP/JPY melemah pada 19 Februari 2026 karena kombinasi Yen yang kuat dan Pound yang relatif lemah, ditambah dengan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral yang berbeda dan risiko global yang membuat investor lebih memilih safe haven seperti Yen.