Dolar AS Menguat, Tapi GBPUSD Masih Punya Peluang Rally ke 1.3477!

0
19

Javafx.co.id – Pasangan mata uang GBPUSD bergerak volatil pada perdagangan 21 Mei 2026 dengan kecenderungan berada di bawah tekanan setelah dolar AS kembali menguat akibat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve yang bertahan lebih lama. Di sisi lain, pound sterling sempat mendapatkan dukungan dari data inflasi Inggris yang melandai, namun sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian politik Inggris dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.




Dolar AS Menguat Setelah Minutes The Fed Bersifat Hawkish

Faktor utama yang menekan GBPUSD hari ini berasal dari penguatan dolar AS. Minutes rapat Federal Reserve terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila inflasi AS tetap berada di atas target 2%. Hal tersebut meningkatkan ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter ketat akan berlangsung lebih lama.


Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi Treasury AS tetap berada di level tinggi sehingga meningkatkan daya tarik dolar AS dibanding mata uang lainnya, termasuk pound sterling. Selain itu, ketegangan geopolitik Timur Tengah dan kekhawatiran lonjakan harga energi juga memperkuat permintaan safe haven terhadap USD.




Inflasi Inggris Melambat, Pound Sempat Tertolong

Dari sisi Inggris, data inflasi terbaru menunjukkan CPI Inggris turun menjadi 2.8%, lebih rendah dari perkiraan pasar. Penurunan inflasi didorong oleh turunnya harga listrik dan gas. Data tersebut sempat memberikan sentimen positif bagi pound karena menurunkan tekanan ekonomi domestik Inggris.


Namun, perlambatan inflasi juga memunculkan spekulasi bahwa Bank of England mungkin tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga ke depan. Hal ini membatasi penguatan Pound karena selisih kebijakan moneter antara BoE dan The Fed masih cenderung mendukung dolar AS.


Ketidakpastian Politik Inggris Menekan Sterling

Sentimen pound juga masih dibayangi kekhawatiran politik domestik Inggris. Pasar mengkhawatirkan stabilitas fiskal pemerintah Inggris di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan biaya hidup masyarakat. Beberapa analis menyebut ketidakpastian politik dapat menjadi faktor yang menahan reli GBPUSD dalam jangka pendek.



Selain itu, pasar obligasi global yang masih volatil turut mempengaruhi pergerakan sterling. Investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko sehingga aliran dana masih dominan menuju dolar AS.


Baca Juga: Trader Wajib Pantau! GBPUSD H1 Beri Sinyal Reversal Kuat


Kondisi Terkini GBPUSD

Berdasarkan data terbaru, GBPUSD diperdagangkan di sekitar level 1.3445 pada 21 Mei 2026. Pergerakan pair ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan data inflasi AS, arah kebijakan The Fed, dan kondisi ekonomi Inggris dalam beberapa minggu ke depan.

Kesimpulan

Secara fundamental, pergerakan GBPUSD pada 21 Mei 2026 dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor utama:

  • Penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
  • Minutes FOMC yang bernada hawkish.
  • Yield obligasi AS yang tetap tinggi.
  • Inflasi Inggris yang melambat sehingga mengurangi ekspektasi agresivitas Bank of England.
  • Ketidakpastian politik dan fiskal Inggris yang menekan pound sterling.
  • Sentimen safe haven akibat ketegangan geopolitik global.

Selama dolar AS tetap didukung oleh kebijakan moneter ketat dan permintaan safe haven, GBPUSD masih berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek meskipun pound memperoleh dukungan sementara dari data inflasi Inggris yang lebih rendah.




Buka Akun Trading:

diJAVAaja