AUDUSD sempat menguat di pembukaan perdagangan pekan ini atas ketidakpastian perdagangan yang berlanjut pasca kritik Donald Trump terhadap Mahkamah Agung atas pemblokiran tarif timbal balik. Namun, menguatnya dolar Australia juga didukung oleh meningkatnya ekspektasi hawkish terkait prospek kebijakan Bank Sentral Australia.
AUDUSD tampak masih berjuang untuk melanjutkan kenaikan sesi ketiga berturut-turut. Pasangan Aussie ini diperdagangkan di sekitar level 0.7070 padahal sempat menyentuh level 0.7100 di jam perdagangan Asia, Senin. Penguatan pasangan mata uang ini seiring melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama lainnya di tengah ketidakpastian tarif yang terus berlanjut.
Ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan masih cukup intens setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik Mahkamah Agung yang memblokir penggunaan atas wewenang darurat untuk menerapkan tarif resiprokal (timbal balik). Trump pada Sabtu mengatakan bahwa ia berencana menaikkan tarif global menjadi 15% dari 10%, yang justru muncul setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar agenda perdagangan Trump. Trump menambahkan bahwa tarif baru akan “berlaku segera” dan memperingatkan bahwa tarif tambahan dapat diperkenalkan.
Namun, meningkatnya kelanjutan ketegangan AS-Iran, dapat membatasi kenaikan AUDUSD. Pada hari Minggu, The New York Times melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan udara terbatas atas Iran, jika upaya diplomatik atau serangan awal AS yang ditargetkan tidak membuat Iran menghentikan program nuklirnya. Maka, serangan yang lebih luas dapat dipertimbangkan dalam beberapa bulan ke depan. Pembicaraan AS-Iran selanjutnya dijadwalkan pada Kamis di Jenewa, meskipun Washington dilaporkan sedang menilai tindakan alternatif jika negosiasi gagal.
Sementara itu, Dolar Australia (AUD) mendapat dukungan dari ekspektasi hawkish yang semakin kuat seputar prospek kebijakan Bank Sentral Australia (RBA). Data domestik yang lebih kuat dan panduan yang lebih tegas dari pembuat kebijakan telah memperkuat ekspektasi bahwa RBA mungkin akan mempertahankan bias pengetatan untuk mengatasi tekanan inflasi yang persisten.




