The Fed Hawkish Lagi! GBPUSD Diprediksi Makin Sulit Bangkit

0
24

Javafx.co.id – Dolar AS Menguat, Poundsterling Tertekan Ketidakpastian Politik Inggris

Pergerakan pasangan mata uang GBPUSD pada 15 Mei 2026 mengalami tekanan bearish cukup kuat setelah dolar AS kembali menguat secara global, sementara Poundsterling tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian politik dan kekhawatiran inflasi di Inggris. Kombinasi kebijakan moneter Federal Reserve, sikap hawkish Bank of England (BOE), serta kondisi geopolitik dunia menjadi faktor utama yang mempengaruhi volatilitas pair ini.

Penguatan Dolar AS Jadi Tekanan Utama GBPUSD

Faktor terbesar yang menekan GBPUSD berasal dari penguatan dolar AS. Mata uang AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir setelah pasar mulai memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid memperkuat sentimen tersebut, termasuk:

  • Retail sales AS yang tetap kuat
  • Klaim pengangguran yang masih rendah
  • Kenaikan import prices akibat lonjakan harga energi

Kondisi tersebut membuat yield obligasi Treasury AS naik tajam dan meningkatkan daya tarik dolar AS di mata investor global.

Akibatnya, arus modal global kembali masuk ke aset berbasis dolar sehingga GBPUSD mengalami tekanan turun.





Ekspektasi The Fed Tetap Hawkish

Pasar kini mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi AS kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia.


Konflik Timur Tengah yang terus memanas membuat harga energi melonjak tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global. Federal Reserve diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%.


Sentimen hawkish ini membuat dolar AS tetap dominan terhadap mayoritas mata uang utama dunia, termasuk Poundsterling.


Krisis Politik Inggris Menekan Poundsterling

Di sisi Inggris, Poundsterling mengalami tekanan besar akibat meningkatnya ketidakpastian politik domestik. Pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tekanan serius setelah hasil pemilu lokal Partai Buruh memburuk dan muncul spekulasi pergantian kepemimpinan.


Pasar khawatir ketidakstabilan politik dapat memicu:

  • Belanja fiskal yang lebih agresif
  • Defisit anggaran lebih besar
  • Tekanan inflasi jangka panjang
  • Melemahnya kepercayaan investor terhadap aset Inggris

Situasi tersebut menyebabkan Poundsterling turun ke level terendah dalam lima minggu terhadap dolar AS.


BOE Masih Hawkish Akibat Inflasi Tinggi

Meski Pound mengalami tekanan, pelemahan GBPUSD sebenarnya tertahan oleh ekspektasi bahwa Bank of England masih mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama.

Survei Reuters menunjukkan sebagian ekonom bahkan mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan dari BOE akibat inflasi Inggris yang tetap tinggi di atas target bank sentral.


Inflasi Inggris diperkirakan tetap berada di sekitar 3,2% sepanjang 2026, jauh di atas target 2%. Lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah menjadi penyebab utama tekanan inflasi tersebut.


Namun, pasar menilai tekanan politik dan lemahnya pertumbuhan ekonomi Inggris dapat membatasi kemampuan BOE untuk menaikkan suku bunga secara agresif.




Konflik Timur Tengah Memicu Volatilitas Market

Ketegangan geopolitik global kembali menjadi faktor penting penggerak GBPUSD. Konflik yang melibatkan Iran menyebabkan harga minyak melonjak tajam dan meningkatkan kekhawatiran stagflasi global.


Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, investor cenderung mencari aset safe haven seperti dolar AS. Hal ini membuat USD terus mendapat dukungan kuat, sementara mata uang yang sensitif terhadap kondisi ekonomi global seperti GBP menjadi lebih rentan mengalami pelemahan.


Baca Juga: Trader Fokus ke GBPJPY! Kombinasi Suku Bunga & Krisis Global Picu Lonjakan Harga

Outlook GBPUSD Jangka Pendek

Secara teknikal dan fundamental, GBPUSD masih berada dalam tekanan bearish selama:

Namun, peluang rebound GBPUSD masih terbuka jika:

  • Inflasi AS mulai melambat
  • The Fed kembali dovish
  • BOE memberi sinyal kenaikan suku bunga tambahan
  • Situasi geopolitik Timur Tengah mulai stabil

Level psikologis penting yang menjadi perhatian pasar saat ini berada di area 1.3400 hingga 1.3600.


Kesimpulan

Faktor fundamental utama yang mempengaruhi GBPUSD pada 15 Mei 2026 meliputi:

  • Penguatan dolar AS akibat naiknya yield Treasury
  • Ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi
  • Ketidakpastian politik Inggris yang menekan Poundsterling
  • Inflasi Inggris yang masih tinggi
  • Sikap hawkish BOE
  • Lonjakan harga energi dan konflik Timur Tengah

Selama sentimen risk-off global masih mendominasi pasar dan dolar AS tetap kuat, GBPUSD berpotensi melanjutkan tekanan bearish dengan volatilitas yang tinggi.


Buka Akun Trading:
diJAVAaja