Data Inflasi AS Menentukan Suku Bunga Fed Selanjutnya?

Para pelaku pasar fokuskan perhatian mereka pada data inflasi tingkat konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Selasa (14/11). Sampai saat ini, pasar meyakini, data CPI ini menjadi penentu apakah Federal Reserve masih berada di jalur yang tepat untuk mengembalikan inflasi ke target jangka panjangnya.

Pada Kamis pekan lalu, ketua Federal Reserve (Fed), Jerome Powell, memperingatkan bahwa bank sentral masih memiliki “jalan panjang” dalam upayanya untuk mengendalikan kenaikan harga dan membawa inflasi kembali ke 2%.

Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja pada hari Selasa, diperkirakan akan menunjukkan inflasi tahunan AS turun menjadi 3,3 persen hingga Oktober, menurut perkiraan berbagai ekonom. Angka ini akan menjadi penurunan inflasi utama yang signifikan dari 3,7 persen di September.

Inflasi bulanan AS diperkirakan turun menjadi 0,1 persen, dibandingkan dengan 0,4 persen di bulan September. Sementara inflasi inti, yang tidak termasuk harga pangan dan energi yang sering mengalami volatilitas, diperkirakan tetap di angka 0.3%.

Sinyalemen apa pun yang menunjukkan bahwa inflasi lebih persisten dibandingkan dengan yang diperkirakan dapat menggagalkan pandangan luas bahwa Fed telah menyelesaikan siklus kenaikan suku bunganya. Artinya, angka inflasi yang stabil membuka peluang the Fed kembali menaikkan suku bunga, atau minimal akan kembali mempertahankan suku bunga di Desember mendatang.

Setelah pertemuan kebijakan terakhir The Fed, Powell mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan “dengan hati-hati” dengan keputusan suku bunga di masa depan, yang dianggap oleh pasar sebagai tanda bahwa mereka mungkin telah selesai menaikkan suku bunga.

Namun, Powell kemudian memperingatkan risiko “penyesatan” oleh data harga yang bagus. Pasar memperkirakan probabilitas 90 persen bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya, dengan penurunan pertama hampir sepenuhnya diperkirakan akan terjadi pada Juni 2024 mendatang.

Perlu diingat, bahwa Federal Reserve akan memantau rilis data PCE Core Price Index, yang selama ini menjadi parameter inflasi bank sentral AS tersebut. Sehingga, dapat dikatakan data CPI kali ini tidak akan menjadi penentu mutlak langkah kebijakan the Fed selanjutnya, meski data ini menjadi bagian parameter kondisi ekonomi AS secara keseluruhan.

Sudah menjadi kodratnya, jika data CPI kali ini menunjukkan angka yang lebih baik dari perkiraan, akan mendorong dolar AS untuk menguat. Namun demikian, angka inflasi yang stabil juga akan memengaruhi the Fed untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga selanjutnya. Imbasnya, kenaikan suku bunga Fed berpotensi naiknya yield obligasi AS. Kenaikan yield obligasi AS kerap mendorong menguatnya greenback.

Get the daily news in your inbox

Related Articles

Share this post

Hubungi Kami

Pusat Edukasi

Pusat Berita

Headquarter

Foresta Business Loft 5 Unit 15
Jl. BSD Boulevard, Lengkong Kulon
Pagedangan Tangerang
Banten 15331

Contact Us

Phone: +62 21 222 32 200
Fax: +62 21 222 31 318
Email: [email protected]

Peringatan Resiko: Contracts for Difference(CFD) adalah produk keuangan yang complex yang ditransaksikan berupa margin. Trading CFD memiliki tingkat resiko yang tinggi dikarenakan leverage yang bekerja memberikan keuntungan ataupun kerugian sekaligus. Sebagai akibatnya, CFD mungkin saja tidak cocok dengan semua investor karena anda bisa kehilangan seluruh modal yang anda investasikan. Anda disarankan untuk tidak meresikokan dana lebih dari yang anda persiapkan untuk kerugian. Sebelum memutuskan untuk bertransaksi, anda harus memastkan bahwa anda mengerti resiko yang terdapat dalam akun untuk tujuan investasi dan tingkat pengalaman anda. Performa yang sudah ada di CFD tidak dapat dijadikan indikator andalan untuk hasil kedepan. Umumnya CFD tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Oleh karena itu, jatuh tempo sebuah posisi CFD ditentukan oleh kapan anda ingin menutup posisi yang ada. Carilah pemandu pribadi, jika diperlukan. Mohon membaca dengan seksama JAVA ‘Pernyataan Pengungkapan Risiko’.