Ekspor & Impor China Bergairah Bulan Desember

JAVAFX – Mengutip data dari Administrasi Umum Kepabeanan menyatakan bahwa nilai ekspor dan impor berdenominasi dengan mata uang China dalam dolar,kedua faktor berada pada posisi lebih tinggi pada bulan Desember.

Menurut data yang dirilis dari Bea Cukai Tiongkok seperti yang dikutip dari lama Reuter menunjukkan bahwa ekspor pada bulan Desember dalam mata uang dolar naik 7,6% YoY, terhadap penurunan 1,3% pada bulan November lalu. Sementara itu, impor Desember 16,3% lebih tinggi dari tahun lalu.

Gold Trading

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan ekspor dalam denominasi dolar akan naik 3,2% dalam setahun dan impor naik 9,6% pada periode yang sama. Surplus perdagangan pada bulan Desember adalah $46,79 miliar, dibandingkan dengan $48 miliar dari yang diperkirakan.

Julian Evans-Pritchard dan Martin Rasmussen, ekonom China di Capital Economics, merujuk pada harga impor yang lebih tinggi menunjukkan bahwa data perdagangan yang lebih baik dari perkiraan adalah “lebih banyak cerminan efek basis dan harga daripada kekuatan saat ini.”

Pada bulan Desember surplus perdagangan China dengan AS sebesar $23,18 miliar, turun dari $24,6 miliar pada bulan November.

Reuters melaporkan mengutip  data dari Wakil Menteri Bea Cukai China Zou Zhiwu menjelaskan bahwa “Impor China dari AS rebound pada bulan November dan Desember. Secara khusus, impor kedelai dan daging babi Tiongkok dari AS secara signifikan pulih pada bulan Desember.”

Zou menambahkan bahwa “sentimen positif AS-Cina terhadap perdagangan meningkatkan kepercayaan perusahaan pada Desember. Data tersebut muncul ketika AS dan China berada dalam kondisi perang dagang yang berlarut-larut selama 18 bulan.

Membaiknya sentimen pelaku pasar membuat rupiah terus mendapat suntikan tenaga untuk menguat dan faktor pemicunya kemungkinan besar karena membaiknya hubungan AS-China menjelang kesepakatan perdagangan fase satu.

Pada pekan lalu, meredanya risiko perang antara AS vs Iran yang menaikkan minat terhadap risiko pelaku pasar, di pekan ini berakhirnya perang dagang AS dengan China yang menjadi headline utama.

Seremoni penandatanganan akan dilakukan besok hari. Delegasi China sudah berada di Washington sejak hari Senin kemarin untuk melakukan penandatanganan kesepakatan dagang. Salah satu poin kesepakatannya adalah AS bersedia untuk diskon tarif atas beberapa produk China. Sebagai imbalannya China akan membeli produk pertanian AS senilai $40 miliar hingga $50 miliar.

Keputusan untuk mengeluarkan Tiongkok dari daftar manipulator mata uang lebih cepat dari yang diperkiraan setelah Departemen Keuangan secara resmi membuat keputusan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He dijadwalkan dengan segera akan menandatangani perjanjian perdagangan “fase satu” pendahuluan di Washington pada hari Rabu. Cina sekarang berada dalam “daftar pemantauan” pada praktik manipulator mata uang bersama sembilan negara lain, termasuk Jerman, Italia dan Jepang.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin dalam sebuah pernyataan menjelaskan bahwa “Departemen Keuangan telah membantu mengamankan perjanjian Fase Satu yang signifikan dengan China yang akan mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dan peluang bagi pekerja dan bisnis Amerika. Tiongkok telah membuat komitmen yang dapat ditegakkan untuk menahan diri dari devaluasi kompetitif, sembari mempromosikan transparansi dan akuntabilitas.”

Langkah Departemen Keuangan pada Agustus lalu untuk menyebut Cina sebagai manipulator meningkatkan ketegangan dalam perang dagang dan merupakan penunjukan formal pertama sejak pemerintahan Presiden Bill Clinton. Itu terjadi ketika yuan Tiongkok melemah melebihi 7 yuan terhadap greenback untuk pertama kalinya sejak 2008.

Kabar penandatanganan kesepakatan dagang antara AS-China membuat harga emas goyah. Harga emas mengalami koreksi, ketika ada harapan baik menyongsong kembali pulihnya perekonomian setelah sempat tertekan akibat perang dagang.

Perang dagang kedua negara telah membuat perekonomian global melambat. Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) pada pertengahan Oktober lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% di tahun 2019, dibandingkan proyeksi yang diberikan pada bulan Juli sebesar 3,2%. Proyeksi tersebut merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir.