Harga Emas Turun Beruntun, Pertama Dalam Tiga Minggu Ini

JAVAFX – Pada perdagangan Selasa (26/02) Emas mencatat penurunan secara back-to-back untuk pertama kalinya dalam 3 minggu terakhir. Pelaku pasar memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan terkini.

Gold Trading

Harga Emas untuk kontrak pengiriman bulan April harus turun $ 1, atau kurang dari 0,1%, di harga $ 1,328.50 per troy ons. Sempat menguat 0,3%, di $ 1,329.50 per troy ons pada perdagangan hari Senin. Harga emas tidak jatuh secara beruntun sejak terkoreksi panjang selama beberapa hari pada 7 Februari silam.

Pasar memberikan reaksi kecil dari laporan tengah tahun yang disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell di Kongres AS. Powell menyampaikan pesan yang jelas bahwa kebijakan Fed akan tetap bergantung pada data karena perubahan prospek ekonomi. Secara tersirat, Powell mengisyaratkan tidak adanya perubahan kebijakan sepanjang 2019 ini.

Powell juga “menyoroti keprihatinan yang memengaruhi AS dan pertumbuhan global,” termasuk ketidakpastian seputar Brexit, friksi perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan Cina serta kekhawatiran tentang utang di AS. Pernyataan itu “mungkin meningkatkan minat investor pada emas sebagai investasi surga.

Sejumlah sentiment yang biasanya menjadi sumber negatif bagi harga emas mengalami pelemahan. Bursa saham mengalami koreksi akibat aksi ambil untung, Dolar AS melemah dengan perkembangan di Eropa, serta turunnya imbal hasil Obligasi AS. Sayangnya, ini semua masih tidak mampu mendorong minat beli investor dan gagal membuat harga emas naik di zona hijau.

Biasanya, kelembutan dalam dolar, tingkat yang lebih rendah dan kelonggaran dalam saham cenderung menarik penawaran emas, yang secara tradisional dipandang sebagai aset yang aman di saat ketidakpastian.

Memang harga emas mengalami pendinginan beberapa waktu terakhir ini. Sejumlah sentiment ikut membebani pasar. Salah satunya adalah sikap investor yang kembali berani memilih aset yang lebih beresiko, risk appetite. Pilihannya jatuh kepada saham, setelah prospek kesepakatan AS – China soal perang tariff menemui titik temu.

Pada hari Senin, optimisme tentang kemajuan menuju pakta tarif antara AS dan China membantu memicu beberapa pembelian aset yang dianggap berisiko dan jauh dari surga yang disebut logam mulia, dan bahwa momentum suram untuk emas terus membebani bullion.

Meskipun logam merayap lebih rendah, beberapa pedagang komoditas tetap optimis pada prospeknya. Dalam jangka pendek emas masih akan tertekan, namun dalam jangke menengah dan panjang, emas berpeluang berayun naik. Hal ini ditopang dengan potensi masalah geopolitik, kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global yang terganggu oleh Perang Dagang dan spekulasi atas sikap The Fed yang mengambil jeda dalam siklus kenaikan suku bunga, secara tidak langsung, emas telah diisolasi dari guncangan penurunan harga secara ekstrem. (WK)