Harga Minyak Ingin Tembus Level Psikologis $50 per Barel

0
100

JAVAFX – Harga minyak ingin tembus level psikologis $50 per barel bagi minyak Brent pada perdagangan kali ini mengikuti kehendak pasar yang sangat nyaman dengan turunnya persediaan minyak pemerintah AS beberapa hari lalu.

Sejauh ini investor masih sangat berhati-hati dengan akan meningkatnya produksi minyak global dan permintaan atau konsumsi minyak yang belum meningkat sehingga keseimbangan pasar tidak terjalin. Sedikit melawan perdagangan semalam yang melemah, kali ini harga minyak sedikit banyak melakukan aksi beli sesaatnya atau buyback sejenak jelang data Baker Hughes nanti malam.

Situasi yang menantikan data Baker Hughes tersebut membuat harga minyak jenis West Texas Intermediate kontrak September di bursa New York Mercantile Exchange divisi Comex untuk sementara bergerak menguat tipis $0,15 atau 0,32% di level $47,07 per barel. Sedangkan minyak jenis Brent kontrak September di pasar ICE Futures London untuk sementara menguat tipis $0,18 atau 0,37% di harga $49,48 per barel.

Semalam sebetulnya minyak Brent mampu menembus level $50 perbarel, namun hanya sebentar karena investor masih ragu-ragu akan keberhasilan OPEC dan 11 negara non-OPEC lainnya dalam rapat evaluasi pemangkasan produksi minyak 1,8 juta barel perhari yang akan diselenggarakan pada 24 Juli ini di St Petersburg Rusia.

Seperti kita ketahui bahwa harga minyak dunia secara umum telah menurun dibawah 15% sejak awal tahun ini, dimana ini disebabkan adanya persaingan diantara produksi minyak AS dengan pemangkasan produksi minyak OPEC. Keefektifan komitmen penurunan produksi OPEC terus dipertanyakan. Kabarnya Rusia dan OPEC akan mengundang Libya dan Nigeria untuk ikut serta dalam pertemuan bulanan untuk evaluasi komitmen pemangkasan produksi minyak 1,8 juta barel.

Libya sendiri diperkirakan akan meningkatkan produksi minyaknya sekitar 1 hingga 1,2 juta barel perhari di tahun mendatang. Peningkatan produksi ini dilakukan untuk memperbaiki keuangan dalam negeri setelah mengalami gejolak di beberapa tahun lalu. Inilah yang masih terus membayangi sikap investor untuk urung membeli minyak secara besar-besaran karena suplai yang nampak masih melimpah membuat sisi stok atau persediaan minyak global kesulitan untuk dijual.

Rabu pagi kemarin, Energy Information Adminsitration menyatakan bahwa persediaan minyak pemerintah AS di minggu lalu menagalami penurunan sebesar 4,7 juta barel, diatas perkiraan pasar 3 juta barel. Untuk bahan bakar diluar dugaan mengalami penurunan juga sebesar 4,4 juta barel dan minyak suling turun persediaannya sebanyak 2,1 juta barel.

Namun EIA juga melaporkan peningkatan total produksi minyak pemerintah AS di minggu lalu sebesar 32 ribu barel perhari menjadi 9,429 juta barel perhari. Selain itu, Departemen Energi AS juga menyampaikan pesan ke investor bahwa produksi minyak mentah AS di bulan depan kemungkinan besar akan naik sekitar 112 ribu barel perhari menjadi total produksi 5,585 juta barel perhari.

Inilah yang membuat investor melakukan aksi jual semalam sebagai bentuk kekuatiran terhadap melimpahnya persediaan minyak global yang bisa membuat barang yang tidak laku dijual, dimana musim dingin juga masih lama jadwalnya. Situasi ini, membuat harapan investor minyak tertuju dengan usaha OPEC.

Setidaknya nanti malam ada petunjuk sedikit dari data Baker Hughes tentang pengaktifan kembali kilang minyak lepas pantai AS. Kalau besar, maka dapat diartikan produksi minyak AS akan digenjot, dan harga minyak akan terkoreksi di penutupan perdagangan minggu ini.

Sumber berita: Bloomberg, Investing, MarketWatch, Reuters
Sumber gambar: The Telegraph