Harga Minyak Merosot, Stok Melimpah

JAVAFX – Minyak mentah berjangka berbalik menurun pada perdagangan bursa komoditi harui Rabu (25/3), setelah kesepakatan paket stimulus terbesar dalam sejarah Amerika yang telah disepakati antara kedua belah pihak karena investor melihat akan ada penurunan permintaan dan stok pasokan yang melimpah.

Minyak mentah berjangka WTI AS diperdagangkan anjlok 2% atau berada di level $23,52 per barel, sementara patokan internasional kontrak Brent turun 2,4% menjadi $26,50.

Gold Trading

Kongres berhasil mencapai kesepakatan pada Rabu pagi tentang langkah stimulus $2 triliun untuk mencoba meningkatkan ekonomi AS. Presiden Donald Trump mengingatkan bahwa lockdown berkepanjangan untuk menahan penyebaran Covid-19 akan menghancurkan ekonomi AS. Trump berniat untuk membuka kembali Amerika sebelum perayaan Paskah pada 12 April 2020.

Trump mengatakan bahwa AS akan kehilangan ribuan orang dalam setahun, tapi AS tidak menutup negaranya. Begitu banyak orang yang meninggal karena kecelakaan mobil, tapi tidak meminta perusahaan otomotif untuk menghentikan produksi mobil. Amerika tidak bisa kehilangan Boeing karena menyangkut ribuan bahkan jutaan pekerja. Pernyataan Trump ini dianggap berbau politik karena Amerika Serikat akan menghadapi Pemilu di bulan November 2020 sedangkan janji Trump adalah perekonomian yang kuat dan tingkat pengangguran yang rendah.

Namun, nada positif yang dihasilkan oleh RUU ini tidak bertahan lama karena sebagian besar ekonomi global tetap ditutup untuk menghentikan penyebaran virus.

Dalam data inventaris AS yang dikeluarkan minggu ini, pemerintah melaporkan peningkatan stok minyak mentah yang lebih kecil dari perkiraan. Persediaan minyak naik 1,6 juta barel untuk pekan yang berakhir 20 Maret. Itu dibandingkan dengan harapan untuk membangun sekitar 2,8 juta barel, menurut perkiraan.

Persediaan bensin turun 1,5 juta barel, dibandingkan perkiraan untuk penurunan sekitar 660.000 barel. Stok distilasi turun sekitar 680.000 barel, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penarikan 1,9 juta barel.

Berbicara tentang situasi pasokan, baik Arab Saudi maupun Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali berunding untuk mengurangi pasokan, bahkan mereka cenderung memompa lebih banyak minyak untuk mendapatkan pangsa pasar.

Ada banyak minyak di pasar dan ada banyak stok yang harus kami bangun karena tidak akan dikonsumsi. Permintaan hari ini kami pikir turun secara signifikan, 15 hingga 20 juta barel per hari pada puncaknya selama beberapa minggu ke depan.”

Kurva pendalaman dalam kurva forward Brent ICE (NYSE: ICE) mencerminkan lingkungan surplus, dan kebutuhan untuk surplus minyak ini harus diteruskan.