Harga Minyak Naik, Didorong Data Ekonomi AS

JAVAFX – Harga Minyak di bursa berjangka pada hari Jumat (04/01) mencetak kenaikan mingguan pertama mereka dalam perdagangan sebulan ini. Rencana perundingan antara AS – China terkait Perang Dagang yang dijadwalkan Senin dan Selasa ini.

Gold Trading

Sementara laporan Departemen Tenaga Kerja AS tentang angka pekerjaan yang baik, telah meredakan kekhawatiran resesi AS. Hal ini membantu mengangkat harga minyak mentah AS ke posisi penutupan tertinggi sejak pertengahan Desember lalu.

Sepekan perdagangan kemarin, harga minyak mentah mendapat dorongan naik dari rencana pengurangan produksi OPEC dan perundingan AS – China terkait perang dagang. Pasar merasa nyaman dengan sentiment disini. Sayangnya diujung perdagangan pekan kemarin, muncul data ekonomi AS yang menjadi ganjalan laju kenaikan harga minyak.

Resiko hari Jumat yang banyak data, demikian kondisi yang dihadapi pelaku pasar. Banyak data yang dirilis, dari Lembaga Informasi Energi, yang semestinya dirilis hari Selasa namun mundur dua hari karena liburan Hari Tahun Baru, menunjukkan sedikit perubahan stok minyak mentah AS selama minggu kedua berturut-turut, meskipun persediaan produk minyak bumi naik.

Pelaku pasar tetap optimis dengan rencana OPEC. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik 87 sen, atau 1,9%, berakhir pada $ 47,96 per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak bulan depan naik 5,8% untuk minggu ini, menurut Dow Jones Market Data. Minyak mentah berjangka WTI untuk bulan depan, telah turun 24,8% pada tahun 2018.

Sementara pada perdagangan di London, harga patokan minyak global, Brent untuk kontrak pengiriman bulan Maret naik $ 1,11, atau 2%, menjadi $ 57,06 per barel. Harga naik sekitar 7,2% untuk perdagangan selama sepekan. Sementara dalam kinerja tahunan, harga minyak turun 19,5%.

Naiknya harga minyak mentah untuk sepekan kemarin bagi dua jenis minyak mentah ini setelah tiga minggu berturut-turut sebelumnya mengalami kerugian. Harga mendapat dorongan naik pada Kamis kemarin karena sebuah jajak menunjukkan bahwa produksi minyak mentah dibulan Desember dari produsen utama mengalami penurunan bulanan terbesar mereka sejak Januari 2017. Sejauh ini, faktor pasokan memang bermain melawan latar belakang permintaan yang dibentuk oleh volatilitas pasar keuangan dan efek tiruannya terhadap permintaan minyak, juga sebagai tanda perlambatan ekonomi bagi konsumen energi utama China.

Pada perdagangan di hari Jumat kemarin, muncul reaksi positif terhadap berita bahwa Kementerian Perdagangan China, dalam sebuah pernyataan telah mengkonfirmasi bahwa delegasi yang terdiri dari para pejabat perdagangan AS akan bertemu dengan mitra China mereka pada Senin dan Selasa ini. Dalam berita tersebut juga disebutkan bahwa ini akan menandai pertama kalinya kedua pihak bertemu sejak Presiden Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping setuju melakukan gencatan senjata 90 hari perdagangan pada bulan lalu.

Sentimen positif juga hadir setelah Bank Sentral China pada hari Jumat memotong rasio cadangan uang tunai yang harus dimiliki bank sebesar 100 basis poin, atau 1%. Langkah ini dipandang sebagai sarana untuk membantu mengurangi risiko perlambatan ekonomi yang lebih tajam di negeri Tirai Bambu.

Sementara itu, data dari EIA yang dirilis Jumat menunjukkan bahwa pasokan minyak mentah domestik naik tipis hanya 7.000 barel menjadi 441,4 juta barel untuk pekan yang berakhir 28 Desember. Badan pemerintah ini juga melaporkan bahwa untuk pekan yang berakhir 21 Desember, stok minyak mentah turun 46.000 barel.

Analis yang disurvei oleh S&P Global Platts telah memperkirakan penurunan sebesar 1,3 juta barel dalam pasokan minyak mentah dalam minggu terakhir. Pihak American Petroleum Institute (API) pada hari Kamis sebelumnya telah melaporkan penurunan 4,5 juta barel.

Adapun prospek permintaan energi, yang sebelumnya diliputi kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi, sedikit berkurang dengan data ekonomi AS yang dirilis Jumat pagi. Disebutkan bahwa AS telah menambahkan 312.000 pekerjaan baru disektor non pertanian pada bulan Desember. Itu adalah hasil yang jauh lebih kuat dari yang diperkirakan sebelumnya. Data ini memberikan harapan bagi Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga, sebuah faktor yang sangat sensitif untuk pasar keuangan.

Disisi lain, Baker Hughes melaporkan bahwa jumlah pengeboran rig AS yang aktif turun 8-877 minggu ini, menunjukkan perlambatan dalam produksi. Itu mengikuti kenaikan dua minggu berturut-turut. (WK)