Harga Minyak Naik Lagi, Meski Masih Di Pasar Bearish

JAVAFX – Harga minyak naik untuk kedua kalinya secara berturut-turut pada perdagangan hari Jumat (07/06/2019), dimana daya beli meningkat oleh berita tentang kemungkinan penyelesaian sengketa perdagangan antara AS dan Meksiko. Meski demikian, masih ada kekhawatiran tentang gangguan permintaan energi secara global dan lonjakan pasokan minyak mentah AS. Kekhawatiran ini mengirim minyak mentah AS ke wilayah pasar bearish dalam minggu ini.

Gold Trading

Dalam perdagangan sebelumnya, harga minyak mentah berubah naik dan melanjutkan kenaikannya sejak awal perdagangan hari ini karena berita bahwa AS mungkin menunda tarif bagi Meksiko. Hal ini  membantu meredakan kekhawatiran pasar untuk saat ini. Sebagaimana diketahui bahwa ketegangan perdagangan dianggap menjadi sumber ancaman bagi permintaan energi. AS sendiri sedang mempertimbangkan untuk menunda tarif barang-barang asal Meksiko yang terancam oleh Presiden Donald Trump. Trump sedianta akan mengenakan tarif mulai pada hari Senin lusa.

Pelaku pasar cukup yakin bahwa Trump akan menunda pengenaan tarif pada Meksiko, di samping prospek penurunan produksi OPEC yang terus membantu mengangkat harga minyak dari wilayah kejenuhan jual di awal pekan ini. Namun demikian, investor tetap mempertimbangkan bahwa prospek harga minyak tetap redup mengingat perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dengan China dan kekhawatiran akan penurunan permintaan energi secara global.

Pada awal perdagangan hari ini di bursa komoditi AS, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman bulan Juli naik 70 sen, atau 1,3%, menjadi $ 53,29 per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Posisi saat ini semakin menjauh dari posisi terendah dalam lima bulan yang dicapai pada awal pekan ini. Jika konsisten hingga akhir penutupan perdagangan hari ini, maka WTI menuju penutupan yang sedikit lebih rendah untuk kinerja dalam minggu ini. Meski naik dalam dua sesi perdagangan terkini, harga minyak mentah masih masuk dalam pasar bearish, dalam zona koreksi sebesar 20% dari posisi tertinggi sebelumnya di harga $ 66,30 per barel yang tercipta pada 23 April.

Sementara minyak mentah dunia, Brent untuk kontrak bulan Agustus naik $ 1,03, atau 1,7%, pada $ 62,70 per barel di ICE Futures Europe. Sebelum menguat kembali di akhir minggu, harga minyak untuk kontrak bulan depan ini mencatatkan penutupan terendah sejak 28 Januari di pertengahan minggu, dengan hampir turun kembali di bawah $ 60. Harga Brent diperdagangkan sekitar 17% di bawah harga tertinggi yang terlihat pada bulan April. Jika harga Brent di bawah $ 59,656 akan menandai masuknya minyak mentah ini ke pasar beruang. Sementara dalam kinerja secara mingguan, harga Brent mengalami penurunan sekitar 6,8% untuk minggu ini.

Sebuah kajian yang dilakukan oleh tim riset ekuitas dari Morgan Stanley,di hari kamis kemarin menyebutka bahwa investor saat ini menghadapi “lingkungan dimana permintaan minyak global berpotensi lebih menantang. Bagaimana tidak, sebagaimana dikabarkan oleh Lembaga Informasi Energi AS bahwa persediaan minyak mentah AS telah meningkat. EIA melaporkan bahwa pasokan minyak mentah AS naik 6,8 juta barel untuk pekan yang berakhir 31 Mei. Itu adalah kenaikan mingguan terbesar dalam lima minggu. Tentu saja ini akan menjadi sentimen negatif bagi harga minyak mentah, khususnya jenis WTI.

Disisi lain, para pialang juga disuguhi dengan adanya peluang terjadinya pembaharuan perjanjian pemotongan produksi antara Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak utama lainnya menjelang berakhirnya kesepakatan pada akhir bulan ini. Pertemuan OPEC berikutnya, dijadwalkan 25-26 Juni, kemungkiann ditunda hingga awal Juli atas permintaan Rusia. (WK)