IHSG ditutup menguat ditopang melandainya jumlah kasus baru COVID-19

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup menguat ditopang semakin melandainya jumlah kasus baru COVID-19 di Tanah Air.

IHSG ditutup menguat 28,46 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.159,04.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 4,93 poin atau 0,59 persen ke posisi 843,46.

“Penguatan IHSG mungkin karena angka COVID-19 Jakarta sudah mulai menurun plus angka inflasi yang kemarin keluar juga mungkin udah dianggap bottomed (terendah) ya,” kata analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Dari dalam negeri, jumlah kasus harian COVID-19 sudah mulai melandai meski masih fluktuatif.

Pada Selasa (3/8) kemarin, jumlah kasus harian kembali naik di mana terjadi penambahan 33.900 kasus baru sehingga total jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 3,49 juta kasus.

Meski demikian, jumlah kasus meninggal akibat terpapar COVID-19 masih tinggi yaitu bertambah 1.598 kasus sehingga totalnya mencapai 98.889 kasus.

Sementara itu, sebanyak 2,87 juta orang telah dinyatakan sembuh sehingga total kasus aktif COVID-19 sehingga total kasus aktif mencapai 524.142 kasus.

Di DKI Jakarta, pada Selasa (3/8) kemarin kasus baru COVID-19 mencapai 1.601 orang, terendah sejak 16 Juni 2021 atau dua pekan sebelum penerapan PPKM Darurat.

Total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Jakarta selama pandemi mencapai 820.365 kasus.

Terkait inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,08 persen pada Juli 2021 karena beberapa harga komoditas secara umum menunjukkan adanya kenaikan.

Dengan terjadinya inflasi pada Juli, maka inflasi tahun kalender Januari sampai Juli sebesar 0,81 persen dan tahun ke tahun (yoy) sebesar 1,52 persen.

Dibuka menguat, IHSG sempat turun ke zona merah namun tak lama kembali menguat hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham.

Pada sesi kedua, IHSG terus bertahan di zona hijau hinggq penutupan bursa.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat dimana sektor transportasi & logistik naik paling tinggi yaitu 1,31 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor properti masing-masing 1,3 persen dan 1,37 persen.

Sedangkan lima sektor terkoreksi dimana sektor energi dan sektor perindustrian turun paling dalam yaitu masing-masing minus 0,68 persen, diikuti sektor barang konsumen primer 0,12 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” sebesar Rp357,79 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.730.411 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 31,84 miliar lembar saham senilai Rp14,88 triliun.

Sebanyak 246 saham naik, 255 saham menurun, dan 151 tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 57,75 poin atau 0,21 persen ke 27.584,08, indeks Hang Seng naik 231,73 poin atau 0,88 persen ke 26.426,55, dan indeks Straits Times meningkat 37,48 poin atau 1,19 persen ke 3.186,73.

Get the daily news in your inbox

Related Articles

Share this post

Hubungi Kami

Pusat Edukasi

Pusat Berita

Headquarter

Foresta Business Loft 5 Unit 15
Jl. BSD Boulevard, Lengkong Kulon
Pagedangan Tangerang
Banten 15331

Contact Us

Phone: +62 21 222 32 200
Fax: +62 21 222 31 318
Email: [email protected]

Peringatan Resiko: Contracts for Difference(CFD) adalah produk keuangan yang complex yang ditransaksikan berupa margin. Trading CFD memiliki tingkat resiko yang tinggi dikarenakan leverage yang bekerja memberikan keuntungan ataupun kerugian sekaligus. Sebagai akibatnya, CFD mungkin saja tidak cocok dengan semua investor karena anda bisa kehilangan seluruh modal yang anda investasikan. Anda disarankan untuk tidak meresikokan dana lebih dari yang anda persiapkan untuk kerugian. Sebelum memutuskan untuk bertransaksi, anda harus memastkan bahwa anda mengerti resiko yang terdapat dalam akun untuk tujuan investasi dan tingkat pengalaman anda. Performa yang sudah ada di CFD tidak dapat dijadikan indikator andalan untuk hasil kedepan. Umumnya CFD tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Oleh karena itu, jatuh tempo sebuah posisi CFD ditentukan oleh kapan anda ingin menutup posisi yang ada. Carilah pemandu pribadi, jika diperlukan. Mohon membaca dengan seksama JAVA ‘Pernyataan Pengungkapan Risiko’.