Khawatir Terjadi Gangguan Pasokan, Harga Minyak Terus Naik

JAVAFX – Harga Minyak berjangka naik pada hari perdagangan di hari Jumat (17/05/2019) untuk keempat sesi berturut-turut. Kedua harga minyak sebagai patokan AS dan dunia, mengalami kenaikan mingguan sebesar lebih dari 3%. Muncul potensi kekhawatiran permintaan terkait dengan volatilitas pasar saham namun diimbangi oleh adanya kekhawatiran pasokan terkait dengan ketegangan di Timur Tengah.

Gold Trading

Pada perdagangan di bursa AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 64 sen, atau 1%, menjadi $ 63,51 per barel. Harga penyelesaian di hari Kamis berada pada $ 62,87, per barel yang merupakan penutupan harga tertinggi untuk kontrak bulan depan sejak 1 Mei. Sementara harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan Juli, naik 44 sen, atau 0,6%, ke $ 73,06 per barel di ICE Futures Europe. Sebelumnya, berakhir di di $ 72,62 pada perdagangan di hari Kamis yang menandai posisi harga tertinggi sepanjang bulan ini.

Pelaku pasar secara seksama memperhatikan pertumbuhan produksi minyak serpih AS. Selain itu, juga memperhatikan bahwa produksi OPEC dan sekutu-sekutunya telah mengalami penurunan tajam. Bahkan Iran dan Venezuela, menyumbang penurunan tajam dengan berkontribusi pada penurunan sebesar 840.000 barel per hari dari target penurunan pasokan kelompok sebesar 2,3 juta barel per hari antara November 2018 dan April 2019. Sayangnya, pertumbuhan permintaan minyak global telah melambat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Mempertimbangkan siklus bisnis global saat ini yang berada di persimpangan jalan,  melemahnya sektor manufaktur disatu sisi akan memberikan penurunan pula disektor jasa jika perang dagang AS – China berlarut-larut. Pada akhirnya hal ini akan merusak sentiment konsumen.

Berlatar belakang penurunan ekonomi global tersebut, harga minyak mentah Brent diyakini bisa tergelincir kembali di sekitar $ 50 per barel. Sebalikya, jika kesepakatan bisnis terjadi diantara AS – China, akan memberikan keyakinan pasar dan kepercayaan bisnis dapat kembali, sehingga menghasilkan dolar AS yang lebih lemah dan pertumbuhan global yang lebih kuat . Pada akhirnya, hal ini akan mendorong harga minyak mentah brent melonjak hingga $ 90 per barel. (WK)