Mata Uang Utama Dunia Masih Melirik Pada Isu AS-China dan Brexit

JAVAFX – Pada hari Senin (25/11), Dolar AS dan mata uang utama lainnya masih berfokus pada isu utama tantang pembicaraan perang tarif dagang antara kedua negara adidaya Amerika Serikat-China, sementara itu poundsterling dengan gagah berani malambung ke posisi tertinggi ditengah harapan Brexit yang akan segera terjadi dan berakhirnya kelumpuhan politik yang telah terjadi selama bertahun-tahun.

Namun, pergerakan sedikit marjinal, karena skeptisisme dan keletihan arus berita tentang negosiasi perang tarif perdagangan antara AS-China dan Brexit membuat investor sangat berhati-hati dalam mengambil posisi.

Gold Trading

Pound menguat 0,2% terhadap dolar AS dan berada di level $1,2854 pada perdagangan Asia, mengangkatnya dari level terendah yang hampir dua minggu pada hari Jumat setelah survei menunjukkan bisnis di pasar terdalam mereka sejak 2016.

Greenback, juga didukung oleh data ekonomi positif yang dirilis akhir pekan lalu, dolar menguat 0,1% pada yen Jepang di level 108,78 yen, euro stabil di posisi $1,1021 sementara dolar Australia dan Selandia Baru berdetak lebih tinggi. Namun demikian, sentimen optimis cukup untuk mengangkat dolar Australia diposisi sedikit menguat 0,2% lebih tinggi menjadi $0,6797 dan dolar Selandia Baru juga menguat di level $0,6415. Yuan China menguat 0,1% menjadi 7,0360.

Dolar AS diperdagangkan stabil di posisi 98,258 terhadap sekeranjang mata uang lainnya.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang Partai Konservatif memimpin dalam jajak pendapat menjelang pemilihan 12 Desember mendatang, dimana telah mendukung pound untuk begerak menguat dengan janji untuk “menyelesaikan Brexit” dan membawa kesepakatan untuk meninggalkan Uni Eropa kembali ke parlemen sebelum Natal.

Para pelaku pasar masih menjaga harapan dan waspada dalam pembicaraan perang tarif perdagangan antara Amerika Serika – China karena jika dilihat dari beberapa faktor seperti Hong Kong telah diguncang berbulan-bulan protes oleh para demonstran yang semakin keras terhadap pemerintahan Cina dari bekas jajahan Inggris. Pengesahan undang-undang AS yang mendukung para pemrotes terikat dengan kemarahan Beijing dan berpotensi merusak upaya untuk mengamankan kesepakatan perdagangan.

Presiden Cina Xi Jinping mengatakan pada hari Jumat lalu bahwa ia ingin mencapai kesepakatan, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kemajuan untuk mencapai kesepakatan berjalan dengan baik. Penasihat keamanan nasional A.S Robert O’Brien mengatakan pada hari Sabtu kesepakatan mungkin dicapai pada akhir tahun.

Ketegangan yang meningkat atas Hong Kong, bagaimanapun, telah muncul sebagai komplikasi baru dalam pembicaraan perdagangan, yang sebaliknya tampaknya membuat laju perekonomian kedua negara tersebut menjadi lambat.

Gesekan antara Amerika Serikat dan China mulai menyebar dari perdagangan ke pertanyaan tentang hak asasi manusia Tiongkok. Ini adalah kesempatan sempurna untuk membukukan beberapa keuntungan dan melonggarkan beberapa perdagangan berisiko, yang mendukung yen dan obligasi pemerintah.

Penyelesaian “fase satu” kesepakatan perdagangan antar kedua adidaya tersebut Amerika Serikat-China sepertinya akan ditunda ke tahun depan, pakar perdagangan dan orang-orang yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan kepada Reuters, ketika Beijing menekan untuk pengembalian tarif yang lebih luas dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membalas dengan meningkatnya permintaan itu sendiri.