Minyak Mentah Terhambat Kekhawatiran Covid19 dan Persediaan Dunia

0
107
Minyak Mentah

Minyak mentah mencatat kenaikan tipis di sesi perdagangan Selasa, cukup stabil pasca penurunan dalam tiga hari. Meningkatnya kasus covid19 secara global merusak pemulihan akan permintaan bahan bakar kenderaan. Sementara peningkatan produksi dari Libya semakin menambah jumlah persediaan minyak yang sudah ada saat ini.

Minyak mentah Brent berjangka melemah 4 sen, atau 0,1%, di $42,58 per barel, naik dari penurunan sesi sebelumnya di $42,19. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1 sen ke level $40,84 per barel, sebelum turun hingga ke level $40,48.

Berdasarkan angka perhitungan Reuters, Senin, mencatat COVID-19 mencapai 40 juta kasus. Sehingga dengan peningkatan gelombang kedua di Eropa dan Amerika Utara memicu karantina wilayah baru.

Para kementerian anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dengan aliansinya yang disebut OPEC+, melakukan pertemuan pada senin. OPEC+ berjanji untuk mendukung pasar minyak seiring meningkatnya kekhawatiran meningginya infeksi covid19.

Saat ini, OPEC+ teguh pada kesepakatan untuk menahan produksi hingga sebesar 7,7 juta barel per hari (bph) hingga Desember. Kemudian kembali memangkas produksi minyak mentah hingga 5,8 juta bph di Januari.

Namun, tiga sumber dari negara penghasil mengatakan kenaikan produksi yang direncanakan dari Januari jika perlu dapat diubah. Namun, peningkatan produksi minyak mentah Libya, yang beroperasi di luar pakta OPEC+, menambah kekhawatiran persediaan yang telah melimpah.

Libya secara cepat tengah meningkatkan produksi nya pasca konflik bersenjata menutup hampir semua produksi ladang minyak mentah negaranya di Januari. Produksi dari ladang minyak terbesar Libya Sharara, yang kembali dibuka pada 11 Oktober, saat ini menghasilkan sekitar 150,000 bph. Angka tersebut sebesar setengah dari angka kapasitas produksi Libya, dua sumber industri mengatakan kepada Reuters.