Perang Dagang Semakin Nyata, Cina Masih Terus Lepas Obligasi AS

Sebagaimana kita ketahui, hingga Januari 2018, Cina memegang sekitar US$1,17 Triliun UST dan menjadikannya kreditur asing terbesar Amerika dan pemegang obligasi AS terbesar kedua setelah Bank Sentral AS, The Fed. Jika Cina mengurangi portofolionya, maka hal tersebut dapat memukul sektor keuangan Amerika dan juga investor global, membuat Yield obligasi membumbung tinggi dan memaksa pemerintah mengeluarkan biaya untuk membiayai pemerintah federal. Kini Cina hanya memiliki obligasi pemerintah AS sebesar US$ 1,12 Triliun. Langkah tersebut merupakan tanda-tanda bahwa Cina terus mengurangi kepemilikan obligasi Amerika ketika kedua belah pihak masih belum menyepakati perjanjian dagang yang terus mereka rundingkan. Secara total Cina telah mengurangi kepemilikan obligasi Amerika sebesar $200 Miliar sejak masa puncaknya di tahun 2012.

Gold Trading

Langkah Cina mengurangi kepemilikan obligasi Amerika ini untuk mempertahankan nilai mata uang Yuan. Tapi jika Cina lebih agresif melakukannya maka hal itu dapat memicu lonjakan suku bunga dan dapat membuat ekonomi AS kacau balau. UBS memperkirakan jika penurunan kepemilikan itu secara bertahap, maka langkah itu sepertinya akan menaikkan imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun paling banyak 0,4%. Tentunya, hal ini akan menjadi perhatian serius saat-saat ini, terutama saat terjadi langkah balasan Cina saat perang dagang jilid kedua ini terjadi.

Saat ini Dolar AS masih terlihat menguat terhadap berbagai mata uang dan Gold. Dolar index terpantau menguat kemarin dari level 97.44 ke 97.88. Sementara Dolar AS justru melemah terhadap Oil. Oil terus menguat sejak hari Senin dari level 61.56 ke level 63.44.