Perang Dagang Sempat Melemahkan Harga Minyak Dunia

An oil rig situated in the ocean exploring for oil and gas. The oil rig is flaring LNG. Wide angle view of the oil rig on a calm ocean. Yellow and orange clouds at sunset.

Harga minyak dunia sempat melemah cukup tajam selama dua hari sejak hari Rabu minggu ini yaitu dari level  62.87 ke level 57.30. Pelemahan ini terjadi setelah adanya pemerintah AS mencatat kenaikan persediaan minyak mentahnya hingga ke level tertinggi sejak Juli 2017. Selain itu pelaku pasar melihat juga pada melemahnya data perekonomian AS akibat dampak dari perang dagang antara AS dan Cina yang menyebabkan turunnya permintaan akan minyak bumi. Meningkatnya persediaan dan menurunnya permintaan akan minyak bumi telah menyebabkan pelemahan harga Oil yang cukup tajam.

Namun setelah pelemahan yang cukup tajam selama dua hari berturut-turut ini, nampaknya fokus pelaku pasar akan mulai tertuju kepada situasi yang terjadi di Iran dan Libya. Saat ini, Libya terancam akan terjadi perang saudara dan bila terjadi, maka pasokan minyak bumi dari Libya akan terhambat dan membuat Oil naik. Demikian juga adanya perseteruan antara Iran dan Amerika dimana Amerika mengancam akan mengirim 10.000 pasukannya ke Teluk untuk menyerang Iran. Bahkan rakyat Amerika sendiri sebagian besar percaya bahwa perang antara Iran dan AS mendekati kenyataan. Bila ini terjadi, maka harga Oil akan terdongkrak naik.

Gold Trading

Secara teknikal, setelah kemarin sempat melemah hingga level 57.30, maka OIL diprediksi akan terkoreksi naik menuju pivot pada level 58.94. Bahkan jika dapat menembus level 59.00, maka OIL diprediksi dapat terus naik menuju resisten satu pada level 60.58. Tapi, jika OIL tidak dapat menembus level 59.00, maka OIL akan kembali melemah dan akan meneruskan pelemahannya menuju support satu pada level 56.51 sebagai akibat masih kuatnya pengaruh perang dagang yang terjadi antara kedua negara terkuat ekonominya di dunia (AS-CINA).