Risk Appetite Robohkan Safe-haven Dolar AS

Safe-haven dolar AS tergelincir ke level terendah dalam tiga pekan terakhir terhadap mata uang mayoritas pada perdagangan sesi Selasa di tengah tumbuhnya sentimen risiko seiring penguatan di pasar ekuitas Asia yang mengikuti kenaikan kuat pada saham teknologi AS, serta sinyal pasar properti China masih berlanjut.

Indeks dolar, yang mengukur perdagangan greenback terhadap enam mata uang mayoritas, turun ke level 93,641 untuk pertama kali sejak 28 September, menembus level bawah rentang saat ini dan terakhir terlihat turun 0,26% di level 93,690.

Indeks saham Asia-Pasifik menguat sekitar 1%, dipimpin oleh kenaikan saham teknologi. Indeks saham blue chips China juga menguat sekitar 1%.

Kekhawatiran merebaknya masalah utang raksasa properti China, Evergrande, sedikit mereda setelah sebagian rekannya telah membuat kupon pembayaran obligasi pekan ini, dan para pembuat kebijakan pada akhir pekan kemarin mengatakan situasi saat ini masih terkendali.

Mata uang yang sensitif terhadap risiko dolar Aussie menguat, bersamaan dengan Yuan China. Yuan yang pada perdagangan internasional menguat hingga 6.4105 per dolar, harga tertingginya sejak 16 Juni, sementara Yuan perdagangan domestik mencapai level 6.3975, juga yang terkuat sejak 16 Juni.

Dolar Australia menguat hingga ke level $0.7474 untuk kali pertama sejak 3 September, bahkan setelah risalah pertemuan bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia, di September menunjukkan para pembuat kebijakan fokus pada pengetatan kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi pasar tenaga kerja.

Pekan lalu, indeks dolar sempat menyentuh level tertingginya dalam satu tahun di level 94,563 karena ketakutan akan stagfalasi membuat pasar beralih ke aset safe havens, serta perkiraan Federal Reserve akan mulai melakukan pengurangan stimulus moneternya secepatnya bulan depan, diikuti dengan kenaikan suku bunga pada tahun depan.

Dengan taruhan pengetatan Fed yang sudah diperhitungkan, pasar saat ini meningkatkan taruhannya pada normalisasi kebijakan di tempat lain, dengan Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey mengatakan pada hari Minggu bahwa bank sentral harus bertindak untuk melawan peningkatan risiko inflasi, sementara data di Selandia Baru pada hari Senin menunjukkan inflasi harga konsumen pada laju tercepat di lebih dari satu dekade.

Inggris dan Selandia Baru pimpin kenaikan singkat yield obligasi secara global pada sesi kemarin, dengan yield obligasi di Eropa dan Australia naik relatif lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat, sehingga menekan dolar.

Sterling menguat terhadap dolar AS ke level $1.3778 untuk kali pertama sejak 17 September. Dolar Selandia Baru menguat terhadap dolar AS ke level $0.7149 juga untuk pertama kali sejak 14 September. Sementara euro menguat hingga ke level $1,1658, level yang belum berhasil disentuh sejak 29 September.

Bahkan, dolar AS juga melemah terhadap safe-haven yen, dengan dolar turun 0,3% ke level 113.975, terus merangsek turun dari level tertingginya di hampir tiga tahun terakhir dari level 114.47 yang dicapai pada Jumat akhir pekan kemarin.

Investor saat ini akan fokus pada pidato dari berbagai pejabat bank sentral pada hari Selasa, termasuk gubernur BoE Bailey, gubernur Bank Finlandia Olli Rehn, kepala ekonom Bank Sentral Eropa Philip Lane, dan gubernur Fed Christopher Waller.

“Sentimen bahwa inflasi ‘sementara’ akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya telah menjadi katalis utama” untuk pergerakan imbal hasil global, karena “pasar mengalibrasi ulang ekspektasi kenaikan suku bunga di sebagian besar yurisdiksi,” tulis ahli strategi Westpac dalam sebuah catatan penelitian.

Namun, Amerika Serikat kemungkinan akan terisolasi dari hambatan pasar energi yang “menimbulkan awan berkelanjutan atas prospek rebound di Eropa dan China,” dan bahwa “akan membuat spread yield obligasi di ujung depan terus melayang menguntungkan USD,” kata mereka, menambahkan bahwa kemunduran dalam indeks dolar harus dibatasi ke 93,70.

Namun, Westpac tetap bullish pada dolar kiwi Selandia Baru – yang bukan bagian dari indeks dolar – menargetkan kenaikan ke $0,74 pada akhir tahun, dan merekomendasikan membeli penurunan apa pun ke $0,6985.

Namun, Westpac masih melihat bullish untuk dollar kiwi, yang tidak termasuk bagian dari indeks dolar, dan memperkirakan kiwi akan naik hingga ke level $0,74 hingga akhir tahun, dan merekomendasikan buy ketika turun ke level $0.6985.

Get the daily news in your inbox

Related Articles

Share this post

Hubungi Kami

Pusat Edukasi

Pusat Berita

Headquarter

Foresta Business Loft 5 Unit 15
Jl. BSD Boulevard, Lengkong Kulon
Pagedangan Tangerang
Banten 15331

Contact Us

Phone: +62 21 222 32 200
Fax: +62 21 222 31 318
Email: [email protected]

Peringatan Resiko: Contracts for Difference(CFD) adalah produk keuangan yang complex yang ditransaksikan berupa margin. Trading CFD memiliki tingkat resiko yang tinggi dikarenakan leverage yang bekerja memberikan keuntungan ataupun kerugian sekaligus. Sebagai akibatnya, CFD mungkin saja tidak cocok dengan semua investor karena anda bisa kehilangan seluruh modal yang anda investasikan. Anda disarankan untuk tidak meresikokan dana lebih dari yang anda persiapkan untuk kerugian. Sebelum memutuskan untuk bertransaksi, anda harus memastkan bahwa anda mengerti resiko yang terdapat dalam akun untuk tujuan investasi dan tingkat pengalaman anda. Performa yang sudah ada di CFD tidak dapat dijadikan indikator andalan untuk hasil kedepan. Umumnya CFD tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Oleh karena itu, jatuh tempo sebuah posisi CFD ditentukan oleh kapan anda ingin menutup posisi yang ada. Carilah pemandu pribadi, jika diperlukan. Mohon membaca dengan seksama JAVA ‘Pernyataan Pengungkapan Risiko’.