Tak Henti Sebarkan Teror, Kini Korban Corona Mencapai 1.107 Jiwa

JAVAFX – Jumlah korban meninggal akibat dari terinfeksi virus corona di Provinsi Hubei, China melonjak hingga 1.107 jiwa pada hari Rabu (12/2) dengan jumlah orang yang terjangkit virus tersebut di China mencapai 33.366 orang dan angka kematian harian yang terus meningkat.

Kementerian Kesehatan China seperti dilansir AFP mencatat, jumlah korban yang meninggal dunia karena akibat terjangkit virus corona kini bertambah 94 mencapai 1.107 jiwa dan ada 1,638 kasus baru sehingga total menjadi 44,138 di seluruh dunia serta kasus kematian terbanyak pada 24 jam terakhir terjadi di Provinsi Hubei, China.

Gold Trading

Jumlah orang yang meninggal di luar China akibat virus corona sampai saat ini berjumlah dua orang, yakni di Filipina dan Hong Kong.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan nama resmi baru untuk virus corona yakni Covid-19. Menurut Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, nama itu dipilih untuk menghindari stigma terhadap ras tertentu, lokasi geografis atau spesies hewan.

Covid-19 merupakan singkatan dari ‘co’ yang merujuk pada virus corona, ‘vi’ yang merupakan sebutan untuk virus, dan ‘d’ yang berarti penyakit (disease).

Ini adalah kedua kalinya dalam dua minggu terakhir bahwa pihak berwenang mencatat penurunan harian dalam kasus baru, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan penyebaran kasus di luar China bisa menjadi “percikan yang menjadi api yang lebih besar”.

Ratusan perusahaan di China mengatakan mereka sangat membutuhkan pinjaman dengan jumlah miliaran dolar untuk tetap bertahan dalam beberapa waktu dan sistem PHK terhadap pegawai telah dimulai, meskipun ada jaminan oleh Presiden China Xi Jinping bahwa tidak akan ada pemecatan sehingga akan dapat dihindari.

Lebih dari 300 perusahaan China mencari pinjaman bank dengan total setidaknya 57,4 miliar yuan ( 8,2 miliar) untuk membantu mengatasi gangguan yang disebabkan oleh tidak adanya aktivitas bisnis di kota-kota yang terkunci, pabrik-pabrik yang tutup dan jalur pasokan yang lumpuh.

Tim ahli pakar internasional WHO yang tiba tiba di Cina untuk menyelidiki wabah tersebut. Angka kematiannya kini telah melampaui Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), yang menewaskan ratusan orang di seluruh dunia pada tahun 2002/2003 silam.

Pihak berwenang mengatakan mereka akan melakukan langkah-langkah untuk menstabilkan pekerjaan, di samping pemotongan suku bunga yang diumumkan sebelumnya dan stimulus fiskal yang dirancang untuk menjaga penurunan ekonomi seminimal mungkin.

Pemerintah Cina memperkirakan virus itu akan menghapus satu persen poin dari pertumbuhan ekonomi tahunan di China dan para analis khawatir gangguan yang berkepanjangan dapat memiliki konsekuensi negatif bagi pertumbuhan global.