Tensi Perang Dagang Tetap Tinggi, Dolar AS Masih Menekan

JAVAFX – Tensi perang dagang tetap tinggi, dolar AS masih menekan pada perdagangan hari ini di mana potensi penguatan dari mata uang AS ini sepertinya memang masih muncul kembali dengan pengaruh aksi safe haven yang akan semakin besar.

Secara umum di perdagangan sebelumnya, kondisi dolar AS memberikan tekanan kepada mata uang utama dunia lainnya, sehingga hal ini mengakibatkan EURUSD ditutup melemah di level 1,1553, GBPUSD ditutup melemah di level 1,2941, AUDUSD ditutup melemah di level 0,7385 dan USDJPY ditutup menguat di level 111,39.
Dan untuk sementara di siang ini, EURUSD bergerak di level 1,1555, GBPUSD bergerak di level 1,2940, AUDUSD di level 0,7391 dan yen di level 111.32.

Gold Trading

Sebelumnya, nilai dolar AS sedikit membaik pada perdagangan semalam setelah investor sedang memanfaatkan momentum memanasnya tensi perang dagang antara AS dengan China dengan agenda persiapan pembalasan China dengan tarif baru senilai $60 milyar sebagai jawaban atas usaha AS yang telah menaikkan tarif bea masuk produk China dari 10% menjadi 25% dengan nilai mencapai $200 milyar.

Kondisi ini diperparah pihak China yang enggan untuk berunding dengan AS padahal kondisi pasar sahamnya terus anjlok dalam 3 bulan terakhir. Investor khawatir bahwa China akan terus melawannya, namun kondisi keuangan negara akan terus tergerogoti dan dapat menimbulkan resesi jenis baru. Faktor safe haven dolar AS akan selalu muncul ketika tensi perang dagang ini memanas. Ini disebabkan investor mencari aset yang aman dan lebih pasti dalam memberikan keuntungannya.

Kondisi perang tarif belum usai diperparah lagi tekanan ke Iran. Memang Iran bukanlah negara dengan kekuatan ekonomi seperti China, namun peran Iran dalam penentuan harga minyak cukup peting disini. Iran merupakan negara pengekspor minyak terbesar kelima terbesar di OPEC, sehingga jika suplainya dilarang AS, maka sekitar 2,7 juta bph minyak akan hilang di pasaran, sehingga diperkirakan banyak pihak bahwa harga minyak bisa ke level $90 per barel lagi, yang artinya inflasi AS akan lebih cepat naik dan suku bunga the Fed akan cepat naik juga sehingga indeks dolar atau greenback akan menguat lebih besar.

Sebetulnya ekonomi AS butuh kenaikan suku bunga yang agresif demi menghindari resesi, dan semua ini terus didukung oleh data tenaga kerja yang masih ketat dan inflasi yang mulai meningkat di AS. Apalagi pekan lalu keputusan bank sentral Uni Eropa yang menunda perubahan suku bunga negatifnya, seakan membuka jalan bagi euro untuk tertekan dalam jangka panjang, apalagi masalah perang dagang masih terus membayangi pergerakan mata uang utama dunia.

The Fed memang dalam rapat yang terakhir tidak merubah suku bunganya, namun bank sentral AS ini merubah cara pandang ekonominya serta meningkatkan outlook yang lebih bagus sehingga ada isyarat kuat bahwa rapat di September dan Desember nanti baru akan ada kenaikan suku bunga baru.

Sebelumnya indeks dolar menjaga ritme positifnya selama ini di mana proses perang dagang memberikan arti bahwa harga barang yang terkena tarif baru dari Presiden Trump khususnya harga barang di AS, akan mengalami kenaikannya. Trump menaikkan tarif impor produk China dari 10% menjadi 25% dengan nilai mencapai $200 milyar per tahun.

Sisi kenaikan inflasi di AS tentu akan mendatangkan dukungan yang kuat terhadap rencana kenaikan suku bunga ths Fed yang bisa naik secara agresif. Sinyal inflasi yang akan meninggi ini, telah dibaca investor dengan melakukan koleksi surat hutang berlatar belakang AS meski Trump tidak senang.

(Sumber: Analis JAVAFX)
Author : Adhi Gunadhi