Virus Corona Di Prediksi Semakin Kuat Menarik Jepang Ke Dalam Resesi

Pada kuartal IV tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Jepang di rilis sebesar -1.9%. Pertumbuhan ekonomi negatif ini di karenakan pemerintah Jepang telah memberlakukan kenaikan pajak penjualan dari 8% menjadi 10% pada Oktober lalu sehingga konsumsi pribadi turun sebesar 2.9%. Adanya bencana topan yang melanda Jepang juga turut menyumbang penurunan pertumbuhan ekonomi. Penurunan ini jauh lebih buruk dari yang di perkirakan para ekonom sebesar 1%. Jika kuartal I tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Jepang kembali negatif, maka Jepang dapat di katakan telah memasuki resesi karena suatu negara di katakan resesi bila pertumbuhan ekonominya ada di area negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Gold Trading

Nampaknya resesi semakin mendekati Jepang karena dampak dari virus Corona pada sektor pariwisata yang semakin terlihat nyata. Jepang berpeluang kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata sebesar 1.29 Miliar dolar AS atau sebesar 17,6 Trilyun rupiah pada periode Januari hingga Maret 2020. Menurut Organisasi Penerbangan Sipil International (ICAO) sekitar 70 maskapai telah membatalkan penerbangan Internasional dan sekitar 50 maskapai lainnya telah membatasi penerbangan. Penurunan penumpang terjadi sekitar 16,4 juta-19,6 juta di bandingkan dengan target kuartal I tahun 2020.

Kekhawatiran bahwa resesi akan melanda Jepang telah membuat Yen Jepang melemah terhadap Dolar AS, Poundsterling dan Euro. USDJPY terpantau naik dari level 109.84 ke level 110.11, GBPJPY terpantau naik dari level 142.77 ke level 143.16, dan EURJPY terpantau naik dari level 118.55 ke level 118.94.