Pound Sterling Masih Perkasa, Yen Jepang Tertekan Intervensi dan Krisis Energi

0
12

Javafx.co.id – Pergerakan pasangan mata uang GBPJPY pada 11 Mei 2026 masih menjadi perhatian utama trader forex global karena volatilitas yang sangat tinggi. Pair ini bergerak agresif akibat kombinasi kebijakan moneter Bank of England (BoE), intervensi Jepang di pasar valuta asing, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dunia. Kondisi tersebut membuat Poundsterling tetap kuat, sementara Yen Jepang masih kesulitan mempertahankan penguatan meskipun pemerintah Jepang terus melakukan intervensi besar-besaran.

Faktor fundamental terbesar yang mempengaruhi GBPJPY saat ini adalah perbedaan kebijakan moneter antara Inggris dan Jepang. Bank of England masih dipandang lebih hawkish karena inflasi Inggris belum turun secara signifikan. Pasar memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan tekanan harga, sehingga yield obligasi Inggris tetap menarik bagi investor global. Situasi ini membuat arus dana terus mengalir ke Poundsterling dan menjaga GBP tetap dominan di pasar forex.

Di sisi lain, Yen Jepang masih berada dalam tekanan meskipun Bank of Japan mulai menunjukkan sinyal lebih hawkish. Risalah rapat BOJ terbaru menunjukkan beberapa anggota dewan mulai membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila dampak lonjakan harga energi terus mendorong inflasi Jepang lebih tinggi. Namun pasar masih menilai langkah BOJ terlalu lambat dibanding bank sentral utama lainnya sehingga Yen belum mampu menguat secara konsisten.

Pemerintah Jepang juga kembali diduga melakukan intervensi besar di pasar mata uang untuk menahan pelemahan Yen setelah USDJPY mendekati level psikologis 160. Menurut data terbaru, Jepang diperkirakan telah menghabiskan lebih dari 5 triliun yen atau sekitar 32 miliar dolar AS untuk membeli Yen dalam beberapa hari terakhir. Intervensi ini sempat membuat Yen menguat tajam, namun efeknya tidak bertahan lama karena tekanan fundamental terhadap Yen masih sangat besar.

Selain faktor kebijakan bank sentral, konflik geopolitik antara AS dan Iran juga menjadi pemicu utama volatilitas GBPJPY. Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap ekonomi Jepang karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Akibatnya, Yen semakin rentan melemah ketika harga minyak naik tajam.



Baca Juga: Poundsterling Mengamuk! GBPJPY Terancam Rally Lebih Gila di Tengah Krisis Yen!

Sementara itu, sentimen risk-on di pasar global masih cukup mendukung Poundsterling. Investor mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah muncul harapan bahwa konflik Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi perang regional yang lebih besar. Kondisi ini membuat permintaan terhadap mata uang safe haven seperti Yen menjadi terbatas dan memberi ruang bagi GBPJPY untuk tetap bergerak bullish dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, fundamental GBPJPY pada 11 Mei 2026 masih cenderung bullish karena kombinasi kuatnya Poundsterling dan lemahnya Yen Jepang. Selama BoE mempertahankan sikap hawkish sementara BOJ masih bergerak lambat dalam normalisasi kebijakan moneternya, GBPJPY berpotensi melanjutkan kenaikan. Namun trader tetap perlu waspada terhadap potensi koreksi tajam akibat intervensi mendadak dari Jepang maupun perkembangan konflik geopolitik global yang dapat memicu lonjakan volatilitas pasar.


Buka Akun Trading:
diJAVAaja