Pound Inggris Terpukul Politik & Inflasi! GBPUSD Siap Turun Tajam?

0
25

Javafx.co.id Faktor Fundamental yang Mempengaruhi Pergerakan GBPUSD – 19 Mei 2026

Pasangan mata uang GBPUSD pada perdagangan 19 Mei 2026 bergerak volatil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, perubahan ekspektasi suku bunga Bank of England dan Federal Reserve, serta meningkatnya tensi geopolitik dunia. Pound Sterling menghadapi tekanan akibat kondisi politik Inggris dan kekhawatiran perlambatan ekonomi, sementara Dolar AS mendapat dukungan dari naiknya yield obligasi Amerika dan ekspektasi kebijakan hawkish Federal Reserve.


Ekspektasi Federal Reserve Kembali Hawkish Menguatkan Dolar AS

Faktor terbesar yang menekan GBPUSD saat ini adalah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada akhir 2026. Kenaikan inflasi AS akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik Timur Tengah membuat pasar kembali membeli Dolar AS sebagai safe haven.


Yield obligasi AS tenor 10 tahun juga naik mendekati level tertinggi tahunan, yang meningkatkan daya tarik aset berbasis USD. Investor mulai mengurangi spekulasi pemangkasan suku bunga Fed dan kembali memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat. Hal ini mendorong penguatan Dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama termasuk Pound Sterling.



Pound Sterling Tertekan oleh Krisis Politik Inggris

Pound Inggris melemah akibat meningkatnya ketidakpastian politik di Inggris. Tekanan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer meningkat setelah hasil pemilu lokal yang buruk memicu spekulasi pergantian kepemimpinan di Partai Buruh. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal Inggris dan prospek ekonomi jangka menengah.


Ketidakpastian politik membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap aset Inggris meskipun yield obligasi Inggris mengalami kenaikan. Sentimen negatif ini menjadi salah satu faktor utama pelemahan GBPUSD dalam beberapa sesi terakhir.


Data Inflasi Inggris Menjadi Fokus Pasar

Pelaku pasar juga menunggu data inflasi Inggris yang dianggap sangat menentukan arah kebijakan Bank of England berikutnya. Apabila inflasi Inggris terus melambat menuju area 3%, maka peluang kenaikan suku bunga tambahan dari BoE akan semakin kecil.


Pasar sebelumnya memperkirakan BoE akan tetap hawkish, namun perlambatan inflasi dan melemahnya pertumbuhan ekonomi mulai mengubah ekspektasi tersebut. Jika BoE mulai dovish sementara Fed tetap hawkish, maka tekanan bearish terhadap GBPUSD dapat berlanjut.



Baca Juga: Trader Wajib Waspada! GBPUSD Terjebak Tekanan The Fed dan Geopolitik


Ketegangan Geopolitik Dorong Permintaan Safe Haven USD

Ketegangan konflik Timur Tengah dan isu Selat Hormuz turut meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset aman. Investor global cenderung menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke USD di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.


Kenaikan harga minyak juga memicu kekhawatiran inflasi global yang dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini secara umum mendukung penguatan USD dibanding Pound Sterling.


Kondisi Teknikal dan Sentimen Pasar GBPUSD

Secara teknikal, GBPUSD masih berada dalam tekanan setelah sempat turun tajam hampir 300 pips pekan lalu. Pair ini diperdagangkan di area 1.33–1.35 dengan volatilitas yang cukup tinggi.

Meski sempat terjadi rebound teknikal, sentimen fundamental jangka pendek masih cenderung mendukung penguatan Dolar AS. Namun sebagian analis mulai melihat peluang reversal apabila tekanan politik Inggris mereda dan data inflasi AS mulai melambat


Kesimpulan

Pergerakan GBPUSD pada 19 Mei 2026 dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor fundamental utama:

  • Ekspektasi Federal Reserve yang kembali hawkish.
  • Naiknya yield obligasi AS yang mendukung penguatan USD.
  • Ketidakpastian politik Inggris yang menekan Pound Sterling.
  • Fokus pasar terhadap data inflasi Inggris dan kebijakan Bank of England.
  • Ketegangan geopolitik global yang meningkatkan permintaan safe haven terhadap Dolar AS.

Selama pasar masih melihat Federal Reserve lebih agresif dibanding Bank of England, GBPUSD berpotensi tetap bergerak dalam tekanan bearish dengan volatilitas tinggi dalam jangka pendek.

Buka Akun Trading:

diJAVAaja