Trader Wajib Waspada! GBPUSD Terjebak Tekanan The Fed dan Geopolitik

0
20

Javafx.co.id – Pasangan mata uang GBPUSD bergerak dalam tekanan bearish pada perdagangan 18 Mei 2026. Penguatan dolar AS, lonjakan yield obligasi global, meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta ketidakpastian politik di Inggris menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan pound sterling terhadap USD.



Dolar AS Menguat Karena Ekspektasi The Fed Tetap Hawkish

Sentimen utama pasar saat ini berasal dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran inflasi global sehingga pasar mulai kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan di AS pada akhir 2026.


Yield obligasi Treasury AS juga melonjak tajam, dengan yield US Treasury 10 tahun mencapai level tertinggi sejak awal 2025. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global dan mendorong arus modal masuk ke USD.


Penguatan dolar AS memberikan tekanan besar terhadap GBPUSD karena investor lebih memilih aset safe haven di tengah meningkatnya risiko global.



Ketegangan Timur Tengah Tingkatkan Permintaan Safe Haven

Konflik geopolitik kembali memanas setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Uni Emirat Arab serta meningkatnya tensi antara AS dan Iran. Kondisi ini membuat pasar global memasuki mode risk-off dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.


Harga minyak dunia yang melonjak di atas USD 110 per barel juga memperbesar kekhawatiran inflasi global. Kenaikan biaya energi diperkirakan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan tekanan inflasi tinggi, sebuah kondisi yang negatif bagi mata uang berisiko termasuk pound sterling.



Ketidakpastian Politik Inggris Tekan Pound Sterling

Selain faktor eksternal, pound sterling juga dibebani oleh meningkatnya ketidakpastian politik domestik Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tekanan politik setelah hasil pemilu regional yang buruk dan muncul spekulasi pergantian kepemimpinan Partai Buruh.


Kondisi tersebut memicu lonjakan yield obligasi pemerintah Inggris (gilt yields) karena pasar khawatir pemerintah baru nantinya akan menerapkan kebijakan fiskal yang lebih longgar. Ketidakstabilan politik ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap pound sterling.



Baca Juga: Pound Terpukul, Yen Diburu Safe Haven: GBP/JPY Berpotensi Lanjut Turun



Data Ekonomi Inggris Belum Mampu Mengangkat GBP

Meskipun data GDP Inggris sebelumnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid, pound sterling gagal mendapatkan momentum penguatan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar lebih fokus pada risiko politik dan kekuatan dolar AS dibanding data ekonomi Inggris yang relatif positif.


Pasar juga masih memperhatikan arah kebijakan Bank of England. Walaupun ada peluang kenaikan suku bunga tambahan dari BoE akibat inflasi yang masih tinggi, tekanan eksternal saat ini membuat sterling tetap rentan melemah.



Outlook GBPUSD

Secara fundamental, GBPUSD masih berada dalam tekanan bearish selama dolar AS tetap kuat dan sentimen pasar global masih dipenuhi kekhawatiran inflasi serta geopolitik. Area support psikologis 1.3300 menjadi level penting yang sedang diuji pasar. Jika tekanan jual berlanjut, GBPUSD berpotensi turun menuju area 1.3210 hingga 1.3100.


Namun apabila tensi geopolitik mulai mereda dan pasar kembali mengurangi ekspektasi hawkish The Fed, GBPUSD berpeluang mengalami rebound teknikal dalam jangka pendek.



Kesimpulan

Pergerakan GBPUSD pada 18 Mei 2026 dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor fundamental utama:

  • Penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed
  • Lonjakan yield obligasi global
  • Ketegangan geopolitik Timur Tengah yang meningkatkan permintaan safe haven
  • Ketidakpastian politik Inggris yang menekan pound sterling
  • Kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global

Selama faktor-faktor tersebut masih mendominasi sentimen pasar, GBPUSD cenderung tetap bergerak bearish dengan volatilitas tinggi.


Buka Akun Trading:
diJAVAaja