Javafx.co.id-Secara fundamental, pergerakan GBP/USD saat ini dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter Inggris, kekuatan dolar AS, dan faktor geopolitik global. Pound sterling masih relatif kuat dan sempat berada di level tertinggi sekitar 10 minggu terakhir di kisaran 1.36, didukung oleh sikap hawkish dari Bank of England (BoE) yang membuka peluang kenaikan suku bunga ke depan meskipun saat ini masih ditahan di sekitar 3.75%.
Namun, kekuatan tersebut mulai tertahan karena BoE juga menunjukkan sikap hati-hati (cautious hold) akibat ketidakpastian inflasi dan dampak konflik Timur Tengah, yang membuat pasar menurunkan ekspektasi agresivitas kenaikan suku bunga. Kondisi ini menciptakan bias yang tidak sepenuhnya bullish karena pasar melihat risiko perlambatan ekonomi Inggris di tengah tekanan harga energi dan ketidakpastian global.
Di sisi lain, dolar AS mendapat dukungan dari statusnya sebagai safe haven, terutama karena meningkatnya ketegangan geopolitik seperti konflik Iran dan risiko gangguan di jalur minyak global. Hal ini menjadi faktor penekan bagi GBP/USD, karena setiap peningkatan risk-off biasanya memperkuat USD dan menekan pair ini.
Selain itu, faktor domestik Inggris juga mulai menjadi beban, termasuk kenaikan inflasi akibat energi, ketidakpastian politik, serta kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan kebijakan fiskal. Kombinasi ini membuat beberapa analis mulai melihat bahwa fase “peak pound” bisa mulai berakhir, sehingga potensi kenaikan lebih lanjut menjadi terbatas.
Secara keseluruhan, fundamental GBP/USD saat ini berada dalam kondisi mixed (campuran): di satu sisi ditopang oleh potensi kenaikan suku bunga Inggris, tetapi di sisi lain ditekan oleh kekuatan dolar, risiko geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi Inggris. Ini membuat pergerakan pair cenderung konsolidasi dengan volatilitas tinggi, sambil menunggu katalis besar seperti data ekonomi AS (terutama NFP) dan arah kebijakan bank sentral berikutnya.
Trading aja dulu
diJAVAaja




