Harga Emas Ingin Balas Kekalahannya

0
100

JAVAFX – Analisa fundamental di hari Kamis(28/9/2017), harga emas ingin balas kekalahannya beberapa hari ini karena unsur akan naiknya suku bunga the Fed serta reformasi pajak AS membuatnya terus menjauhi level psikologis $1300 pertroy ounce sehingga harapannya hari ini data PDB AS memburuk dan situasi geopolitik Korea kembali memanas serta membuat risk appetite kalah oleh safe haven.

Safe haven berarti cari yang lebih aman dan mempunyai imbal hasil lebih rendah, dalam hal ini suku bunga bank sentral yang lebih rendah dan juga mencari komoditi logam seperti emas karena panasnya geopolitik Korea tersebut akan membawa efek lambannya laju ekonomi dan inflasi di seluruh dunia, sehingga seperti emas yang merupakan portfolio investasi lebih tahan dalam kondisi tidak menentu tersebut.

Sejauh ini pula greenback masih punya kemampuan untuk terus menguat mengingat beberapa wilayah di dunia juga tidak dalam situasi yang kondusif, seperti zona euro yang sedang dirundung politik di Jerman, Perancis dan Spanyol. Inggris sendiri selain ada masalah Brexit, perseteruan naik atau tetapnya suku bunga BoE juga membuat pasar di Inggris ikut tidak kondusif.

Faktor redanya Korea dan pernyataan Yellen serta reformasi pajak tersebut membuat harga emas kontrak Desember di bursa berjangka New York Mercantile Exchange divisi Comex ditutup melemah tajam $16,10 atau 1,24% di level $1285,60 pertroy ounce. Untuk harga perak kontrak Desember di Comex ditutup melemah $0,10 atau 0,58% di level $16,79 pertroy ounce.

Pekan ini Janet Yellen menyatakan bahwa tidak bijak menahan suku bunga rendah dikala inflasi sekarang ini karena dapat membuat ekonomi AS memanas. Beberapa pejabat the Fed akan berbicara, dan nampaknya juga akan membuat dolar AS untuk tidak terlalu menguat sebagai bagian fokus perbaikan defisit neracanya. Bila greenback menguat maka beban defisit akan melebar lagi.

Namun setidaknya ucapan Yellen ini ampuh untuk menggiring opini bahwa suku bunga memang harus naik. Bahwa dengan laju inflasi sekitar 1,4%, memang seharusnya suku bunga diatas level tersebut. Sedangkan Fed rate sekarang di antara 1% hingga 1,25%, dan pertumbuhan atau PDB sudah di 3%. Tentu ini membuat kemampuan bank sentralnya cukup berat menahan gejolak panasnya ekonomi AS bila suku bunga terus ditahan di level rendah.

Apalagi sebentar lagi reformasi pajak AS yang baru akan dilaksanakan, dimana kondisi tersebut bisa mendorong PDB AS di kisaran 3,5% hingga 4,2% dalam waktu dekat serta membawa inflasi meningkat pesat di kisaran 1,7% hingga 2,1%. Tentu layak untuk dibaca bahwa greenback masih cukup nyaman untuk menekan mata uang utama dunia lainnya sekaligus menekan emas.

Sumber berita: Reuters, MarketWatch, Investing, Bloomberg
Sumber gambar: Financial Post