Hubungan Jaksa Agung AS dan Presiden Trump Memburuk

Jaksa Agung William Barr, yang akan mengundurkan diri, pernah begitu dekat dengan Presiden Donald Trump sehingga para kritikus menyebutnya sebagai “pengacara pribadi Trump.” Namun, ketika Barr bersiap mengundurkan diri pada Rabu (23/12), ia tampaknya kembali menjaga jarak dengan Trump dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar yang disampaikan Trump tentang meluasnya kecurangan pemilu dalam pemilihan presiden (pilpres) pada 3 November lalu yang dimenangkan oleh penantangnya dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Dalam konferensi pers yang tampaknya menjadi konferensi pers terakhirnya sebagai Jaksa Agung pada Senin (21/12), Barr menggarisbawahi bahwa ia tidak melihat adanya bukti tentang meluasnya kecurangan pemilu yang dapat mengubah hasil.

Dia juga mengatakan tidak ada alasan untuk membentuk dewan khusus untuk menyelidiki kecurangan pemilu dan kesepakatan bisnis yang dibuat oleh putra presiden terpilih Joe Biden, Hunter.

Barr berseberangan dengan Trump dalam isu-isu lain.

Antara lain, seruan pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, untuk menyita mesin-mesin pemilu sebagai bukti terjadinya kecurangan, dan penegasan Trump bahwa China – dan bukan Rusia – yang berada di balik serangkaian peretasan badan pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta Amerika baru-baru ini.

Sikap Barr yang menolak usul pembentukan dewan khusus bertolak belakang dengan sikapnya ketika membela Trump selama menjabat sebagai Jaksa Agung selama 22 bulan ini.

Sepanjang penyelidikan jaksa penyidik khusus Robert Mueller, pengadilan pemakzulan Trump awal tahun ini dan demonstrasi menentang perilaku brutal polisi dalam kasus kematian George Flyod; Jaksa Agung berusia 70 tahun yang memiliki pandangan luas tentang kekuasaan eksekutif, kerap membela kepentingan dan wewenang Trump.

Setelah pilpres, kedua tokoh ini dilaporkan berselisih paham setelah Barr menolak menggunakan Departemen Kehakiman untuk mengesahkan klaim tidak berdasar yang disampaikan Trump tentang kecurangan pemilu di negara-negara bagian utama yang penting bagi kemenangan Biden.

Namun, Barr, yang pertama kali menjabat sebagai Jaksa Agung pada 1991-1993, mengatakan ia tidak menyesal mundur dari jabatannya.

Dia mengatakan dia tahu akan “bekerja dengan tugas yang sulit” pada masa yang sulit pula.

Barr pada Senin (21/12) menyampaikan pandangan setelah mengumumkan tuduhan terhadap tersangka baru kasus peledakan pesawat terbang Pan Am 103 pada 1988 lalu.

Latest Articles

Get the daily news in your inbox

Related Articles

China dukung Indonesia jadi pusat produksi vaksin regional

Pemerintah China mendukung Indonesia menjadi pusat produksi vaksin regional sehingga kedua negara bisa berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan umat manusia. "Saya telah memperhatikan laporan tersebut (siaran...

Harga emas melonjak saat dolar AS tertekan prospek stimulus

Harga emas kembali menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), memperpanjang keuntungan untuk hari kedua berturut-turut, karena dolar AS tetap di bawah tekanan. Prospek...

Menyikapi Gerak Harga Emas Saat Pelantikan Joe Biden

JAVAFX - Dalam minggu ini, akan ada peristiwa penting yang bisa menjadi pusat perhatian pasar global, pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat. Biden...

Emas Gagal Melakukan Rebound Yang Meyakinkan

JAVAFX - Risk Aversion yang terjadi di perdagangan akhir pekan kemarin, gagal dimanfaatkan secara maksimal emas. Logam Mulia dianggap gagal melakukan rebound secara meyakinkan...

Let us help you

Register for our free Webminar !

Tujuan utama dari layanan webinar ini adalah untuk membekali Anda dengan pengetahuan dan informasi agar dapat menjadi seorang trader pro.

Webinar ini diselenggarakan secara live dengan berbagai topik menarik, mulai dari tutorial platform trading, analisis teknikal, strategi dan robot trading, hingga update berita fundamental yang berdampak besar terhadap pergerakan market dunia.

Hubungi kami di : +6281 380 725 502