Saham Asia Anjlok Setelah Apple Memperingatkan Dampak Virus Corona

JAVAFX – Bursa saham Asia menurun dan Wall Street melemah dari rekor tertinggi pada perdagangan hari Selasa setelah Apple Inc (O: AAPL) mengatakan tidak dapat memenuhi pendapatan di kuartal pertama di bulan Maret karena Covid-19 terus memperlambat produksi dan melemahkan permintaan iPhone di Tiongkok.

Peringatan dari perusahaan paling berharga di Amerika Serikat itu membuat optimisme para investor tenang bahwa stimulus ekonomi oleh Beijing dan negara-negara lain akan melindungi ekonomi global dari dampak penyebaran virus corona.

Gold Trading

Indeks S&P500 e-mini futures (ESc1) merosot sebanyak 0,3% di perdagangan Asia.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang (MIAPJ0000PUS) turun 0,65%, Indeks Nikkei (N225) Tokyo turun 1,0%, Indeks Shanghai (SSEC) turun 0,2%, setelah naik dalam sembilan dari 10 sesi terakhir sebagian besar karena harapan untuk dukungan kebijakan oleh Beijing.

Pada hari Senin kemarin, PBOC memangkas suku bunga pinjaman jangka menengah, dimana dengan harapan dapat membuka jalan bagi pengurangan suku bunga pinjaman acuan.

Tetapi sentiment pasar sempat terguncang ketika Apple mengatakan kepada investor bahwa fasilitas manufaktur di Tiongkok telah mulai dibuka kembali, akan tetapi pendapatan naik lebih lambat dari yang diperkirakan, memperkuat tanda-tanda akan meluasnya bisnis ditengah penyebaran wabah tersebut.

“Apple mengatakan pemulihannya bisa ditunda, yang bisa berarti dampak dari virus dapat dilalui pada kuartal ini. Jika saham Apple diperdagangkan dengan murah, itu mungkin tidak masalah. Tapi ketika mereka diperdagangkan pada rekor tinggi, investor pasti akan tergoda untuk menjualnya,” kata Norihiro Fujito, kepala strategi investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley (NYSE: MS) Securities.

Saham teknologi Asia juga terpukul. Samsung Electronics (KS: 005930) turun 2,1%, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) (TW: 2330) kehilangan 1,7% dan Sony (T: 7267) turun 2,6%.

Virus yang menyebar dengan cepat ini merenggut telah 98 nyawa lagi sehingga total korban jiwa di daratan Tiongkok menjadi 1.868, dengan 1.886 infeksi baru yang dikonfirmasi dengan total 72.436, kata Komisi Kesehatan Nasional.

Ketika otoritas Tiongkok berusaha mencegah penyebaran penyakit, ekonomi membayar harga yang mahal. Beberapa kota tetap terkunci, jalan-jalan sepi, dan larangan bepergian dan perintah karantina diberlakukan di seluruh negeri, mencegah pekerja migran kembali ke pekerjaan mereka.