Saham Asia Perkasa Ditengah Ketakutan Pasar Terhadap Teror Covid-19

JAVAFX – Bursa saham Asia beragam pada Jumat (14/2) di hari terakhir perdagangan minggu ini, dengan membukukan kenaikan dalam dua minggu berturut-turut dibantu oleh harapan pemerintah terhadap perekonomian global yang kian membaik ditengah kekhawatiran wabah virus corona.

Indeks Shanghai diperdagangkan naik 0,4% lebih tinggi, Indeks Hang Seng naik 0,3%, sementara KOSPI ditutup naik 0,5%, Indeks Nikkei melawan tren, dengan turun 0,7%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang diperdagangkan naik 0,25% pada hari Jumat untuk kenaikan secara mingguan sebesar 1,77%.

Gold Trading

Saham blue-chip CSI300 Cina (CSI300) naik 0,69%, setelah memulihkan kekalahan 95% dari kerugian mereka yang dibuat setelah wabah.

Bank of Japan mengharapkan perekonomian negara tersebut terus berkembang secara moderat, dimana harus juga mengawasi bagaimana perkembangan dari penyebaran wabah virus corona yang dapat mempengaruhi aktivitas produksi dan sektor pariwisata.

Direktur Eksekutif BOJ Eiji Maeda mengatakan bahwa “Ekonomi Jepang mungkin saat ini sedang mengalami kontraksi tajam pada periode Oktober hingga Desember karena permintaan luar negeri melambat, pukulan konsumsi dari kenaikan pajak penjualan tahun lalu dan serangkaian bencana alam.”

“Ekonomi Jepang diperkirakan akan terus berkembang secara moderat sebagai tren. Tetapi kita perlu waspada terhadap berbagai risiko seperti dampak wabah koronavirus terhadap output dan pengeluaran oleh wisatawan asing,” katanya.

Penyebaran wabah Covid-19 ini ini telah memberikan hantaman keras pada Partai Komunis China yang berkuasa dan menjadikan salah satu tantangan terberatnya selama bertahun-tahun serta menghambat perekonomian terbesar kedua di dunia.

Jepang mengkonfirmasi kematian akibat dari virus corona pertamanya pada hari Kamis, seorang wanita berusia 80-an yang tinggal di prefektur Kanagawa dekat Tokyo. Kematian itu adalah yang ketiga di luar daratan Cina, setelah dua lainnya di Hong Kong dan Filipina.

Jepang adalah salah satu yang terkena dampak terburuk dari lebih 22 dari negara dan wilayah lain di luar daratan Cina yang telah terinfeksi dari penyakit tersebut.

Sementara banyak investor berharap epidemi ini akan melambat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, memungkinkan perusahaan untuk kembali ke operasi normal, berapa lama proses itu akan tetap menurut perkiraan siapa pun.