Javafx.co.id – Yen Jepang Masih Tertekan, Pound Sterling Berpeluang Lanjut Menguat!
Pergerakan pasangan mata uang GBPJPY pada 13 Mei 2026 masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental global, mulai dari kebijakan moneter Bank of England dan Bank of Japan, ketegangan geopolitik Timur Tengah, hingga intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan Yen. Secara umum, Pound Sterling masih terlihat lebih kuat dibanding Yen Jepang karena perbedaan suku bunga kedua negara masih sangat lebar.
Pound Sterling Didukung Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Mata uang Pound Sterling mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Bank of England masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga relatif tinggi lebih lama akibat inflasi Inggris yang belum sepenuhnya stabil. Pasar bahkan mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi energi terus meningkat akibat konflik Timur Tengah.
Yield obligasi Inggris yang tetap tinggi membuat investor global masih tertarik menyimpan dana di aset berbasis GBP. Hal ini membuat permintaan Pound Sterling tetap kuat dan menopang kenaikan GBPJPY.
Yen Jepang Masih Lemah Meski Jepang Lakukan Intervensi
Di sisi lain, Yen Jepang masih berada dalam tekanan walaupun pemerintah Jepang telah melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing untuk memperkuat Yen. Reuters melaporkan Jepang diduga menghabiskan sekitar $32 miliar untuk intervensi pembelian Yen dalam beberapa hari terakhir.
Namun tekanan terhadap Yen belum benar-benar hilang karena investor masih melihat kebijakan moneter Bank of Japan jauh lebih longgar dibanding bank sentral negara maju lainnya. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya impor energi Jepang yang sangat besar.
Konflik Timur Tengah Jadi Faktor Penting
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Harga minyak yang tinggi memberikan tekanan tambahan terhadap ekonomi Jepang karena Jepang merupakan negara importir energi utama. Kondisi ini membuat Yen semakin rentan melemah ketika harga energi naik tajam.
Sementara itu, Inggris relatif lebih mampu menghadapi kenaikan energi dibanding Jepang, sehingga Pound Sterling cenderung lebih stabil.
Fokus Pasar: Kebijakan BOJ dan Data Inflasi Inggris
Pelaku pasar kini fokus pada kemungkinan perubahan sikap Bank of Japan. Minutes terbaru menunjukkan beberapa pejabat BOJ mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi akibat lonjakan energi terus berlanjut.
Namun pasar masih menilai langkah kenaikan suku bunga BOJ akan dilakukan secara bertahap dan belum cukup agresif untuk menghentikan pelemahan Yen dalam waktu dekat.
Di sisi Inggris, investor menunggu data inflasi dan komentar pejabat Bank of England untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Intervensi Jepang Gagal? GBPJPY Berpotensi Terbang Lebih Tinggi!
Analisa Fundamental GBPJPY 13 Mei 2026
Secara fundamental, GBPJPY masih cenderung bullish selama:
- Suku bunga Inggris tetap lebih tinggi dibanding Jepang
- Yen Jepang masih tertekan oleh kenaikan harga energi
- Intervensi Jepang belum mampu membalikkan tren pelemahan Yen
- Sentimen risk-on global kembali muncul
Namun trader juga perlu mewaspadai volatilitas tinggi akibat:
- Potensi intervensi lanjutan Jepang
- Komentar hawkish dari BOJ
- Perkembangan konflik geopolitik Timur Tengah
Kesimpulan
GBPJPY pada 13 Mei 2026 bergerak dipengaruhi oleh kuatnya Pound Sterling akibat ekspektasi suku bunga tinggi Inggris, sementara Yen Jepang masih tertekan oleh kebijakan moneter longgar, kenaikan harga minyak, dan kekhawatiran ekonomi domestik Jepang. Selama perbedaan kebijakan moneter antara Inggris dan Jepang masih lebar, GBPJPY berpotensi mempertahankan tren bullish meski volatilitas pasar tetap tinggi akibat risiko geopolitik dan intervensi Jepang.
Buka Akun Trading:
diJAVAaja




