AS – Iran Masih Panas, Dolar Balik Ke Level Tertinggi

0
49
Dolar menguat ditengah konflik AS - Iran

Javafx.news – Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam sepekan terhadap mata uang utama pada hari Senin, sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikannya. Penguatan ini terjadi setelah ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas, sementara harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah mulai memudar. Kondisi ini membuat investor kembali memburu aset safe haven. Amerika Serikat pada hari Minggu menyatakan telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Di sisi lain, Iran menegaskan akan melakukan pembalasan, sehingga memicu kekhawatiran bahwa konflik bisa kembali memanas. Teheran juga mengumumkan bahwa mereka tidak akan ikut dalam putaran kedua negosiasi yang sebelumnya diharapkan bisa dimulai oleh AS sebelum masa gencatan senjata dua minggu berakhir pada hari Selasa.

“Eskalasi yang terjadi selama akhir pekan kembali memunculkan premi risiko geopolitik, tepat saat pasar mulai menghitung potensi keuntungan dari perdamaian,” ujar Charu Chanana, Chief Investment Strategist di Saxo. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak bukan hanya soal sektor energi, tetapi juga berkaitan dengan prospek pertumbuhan ekonomi dan arah suku bunga.

Euro terakhir diperdagangkan di level 1,1757, setelah sempat menyentuh titik terendah dalam sepekan di 1,1729 pada sesi sebelumnya. EURUSD terkoreksi dari puncak kenaikan minggu lalu 1.18484 dan Sementara itu, poundsterling turun 0,11% ke level 1,3503. Dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko juga melemah 0,27% ke level 0,7148.

Indeks dolar (DXY), yang menjadi patokan kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 98,30, mendekati level tertinggi dalam seminggu dan berhasil memulihkan sebagian pelemahannya dalam beberapa hari terakhir. Sepanjang bulan April, indeks ini masih turun sekitar 1,5%, seiring meningkatnya selera risiko pasar karena optimisme terhadap kesepakatan damai. Sebagai perbandingan, pada bulan Maret indeks dolar sempat melonjak 2,3% karena tingginya permintaan terhadap aset aman setelah perang pecah.

Analis menilai pergerakan pasar mata uang yang masih relatif terkendali—di mana dolar sempat naik namun kemudian terkoreksi—menunjukkan bahwa masih ada optimisme bahwa solusi damai masih mungkin tercapai meskipun akhir pekan lalu terjadi kemunduran. Chris Weston, Head of Research di Pepperstone, mengatakan bahwa meskipun awal pekan dibuka dengan nuansa risk-off, pergerakan pasar sejauh ini masih terlihat cukup tertib dan belum menunjukkan tanda-tanda gejolak volatilitas besar. Menurutnya, pelaku pasar memahami bahwa proses menuju kesepakatan formal memang tidak akan berjalan mulus dan tetap sangat rentan terhadap perubahan mendadak, sehingga perubahan sentimen seperti ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

Fokus pasar kini tertuju pada Selat Hormuz

Memasuki minggu kedelapan, perang AS-Iran ini telah menciptakan guncangan pasokan energi yang sangat besar, bahkan disebut sebagai salah satu yang paling parah dalam sejarah. Harga minyak melonjak tajam karena penutupan de facto Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya menangani sekitar 20% pengiriman minyak dunia.

Amerika Serikat masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran sempat membuka lalu kembali memberlakukan blokade terhadap lalu lintas kapal yang melintasi jalur laut strategis tersebut.

Kondisi ini memicu rebound harga minyak pada hari Senin.

  • Brent crude naik lebih dari 5% ke $95,53 per barel
  • WTI naik lebih dari 6% ke $89,08 per barel

Untuk saat ini, aset berisiko masih berpotensi mengalami tekanan turun dalam beberapa sesi ke depan. Dolar Selandia Baru turun tipis ke 0,5872. Sementara itu, yen Jepang melemah ke 158,96 per dolar, masih berada di bawah level psikologis penting 160, level yang dikhawatirkan trader bisa memicu intervensi dari otoritas Jepang untuk menopang mata uang mereka.

Pasar juga akan memperhatikan rapat Bank of Japan (BoJ)yang dijadwalkan akhir bulan ini. Gubernur Kazuo Ueda masih belum memberikan sinyal pasti mengenai kenaikan suku bunga pada bulan April karena perang membuat outlook ekonomi menjadi lebih rumit.

Meski begitu, setelah pertemuan IMF pekan lalu, ia sempat memberikan beberapa sinyal yang cukup hawkish, yang membuka peluang kebijakan moneter lebih ketat pada bulan Juni.

baca juga :
https://www.javafx.news/konflik-iran-hampir-berakhir-optimisme-pasar-meningkat/