BI: utang luar negeri Indonesia tumbuh melambat

Jakarta (ANTARA News) – Bank Indonesia mengungkapkan jumlah utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2017 sebesar 328,2 miliar dolar AS atau rtumbuh tahun ke tahun sebesar 2,4 persen (year on year/yoy), lebih lambat dibandingkan Maret 2017 yang pertumbuhannya 2,9 persen (yoy).

Perlambatan penarikan utang tersebut karena masih lambatnya pertumbuhan ULN pemerintah atau publik, dan berlanjutnya penurunan ULN swasta, menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara melalui pesan tertulis di Jakarta, Jumat.

“ULN publik per April 2017 sebesar 167,9 miliar dolar AS atau 51,2 persen dari total ULN,” kata Tirta.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 9,2 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan Maret 2017 yang sebesar 10 persen.

Sementara ULN swasta tercatat 160,3 miliar dolar AS atau turun 3,9 persen (yoy). Bahkan penurunannya lebih tajam dibandingkan dengan penurunan pada Maret 2017 yang sebesar 3,6 persen (yoy). Porsi utang swasra mencapai 48,8 persen dari total ULN.

Menurut sektor ekonomi, ULN swasta banyak terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,4 persen.

Adapun jika dilihat dari jangka waktu pengambilan utang, ULN jangka panjang dan jangka pendek sama-sama tumbuh melambat dibanding bulan sebelumnya. ULN jangka panjang tercatat 283,6 miliar dolar AS, hanya tumbuh satu persen (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan Maret 2017 yang sebesar 1,1 persen.

Sementara ULN jangka pendek 44,6 miliar dolar AS atau hanya tumbuh 12 persen (yoy), atau lebih lembat dibandingkan Maret 2016 yang sebesar 16 persen.

Meskipun demikian, BI memandang perkembangan ULN pada April 2017 tetap sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional.

“Bank Sentral terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas makroekonomi,” kata Tirta.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017




Get the daily news in your inbox

Related Articles

Share this post

Hubungi Kami

Pusat Edukasi

Pusat Berita

Headquarter

Foresta Business Loft 5 Unit 15
Jl. BSD Boulevard, Lengkong Kulon
Pagedangan Tangerang
Banten 15331

Contact Us

Phone: +62 21 222 32 200
Fax: +62 21 222 31 318
Email: [email protected]

Peringatan Resiko: Contracts for Difference(CFD) adalah produk keuangan yang complex yang ditransaksikan berupa margin. Trading CFD memiliki tingkat resiko yang tinggi dikarenakan leverage yang bekerja memberikan keuntungan ataupun kerugian sekaligus. Sebagai akibatnya, CFD mungkin saja tidak cocok dengan semua investor karena anda bisa kehilangan seluruh modal yang anda investasikan. Anda disarankan untuk tidak meresikokan dana lebih dari yang anda persiapkan untuk kerugian. Sebelum memutuskan untuk bertransaksi, anda harus memastkan bahwa anda mengerti resiko yang terdapat dalam akun untuk tujuan investasi dan tingkat pengalaman anda. Performa yang sudah ada di CFD tidak dapat dijadikan indikator andalan untuk hasil kedepan. Umumnya CFD tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Oleh karena itu, jatuh tempo sebuah posisi CFD ditentukan oleh kapan anda ingin menutup posisi yang ada. Carilah pemandu pribadi, jika diperlukan. Mohon membaca dengan seksama JAVA ‘Pernyataan Pengungkapan Risiko’.