Cina Buang Dolar AS, Dolar Indeks Di Prediksi Melemah

Hubungan antara Amerika Serikat dan Cina terus menegang. Tidak hanya dalam perang dagang tapi berlanjut juga karena masalah pandemi virus Corona (Covid-19), masih memanasnya situasi di Hong Kong setelah pemerintah Hong Kong mensahkan Undang-Undang Ekstradisi,  dan juga ketegangan dalam sengketa di Laut Cina Selatan.

Dalam perang dagang, Amerika ingin keadilan karena produk Cina membanjiri pasar AS dan mengancam industri dalam negeri AS. Untuk masalah pandemi virus Covid-19 ini, Amerika meminta agar Cina transparan dalam penanganan virus Covid-19 di negaranya dan bertanggung jawab atas penyebaran virus Covid-19 ini. Sebelumnya juga Amerika meminta Cina mengedepankan demokrasi dalam menyelesaikan masalah demonstrasi di Hong Kong karena ingin membatalkan UU ekstradisi dan malah ada yang ingin memisahkan diri dari Cina. Hal ini membuat Cina marah karena menganggap Amerika mencampuri urusan negaranya. Akhirnya ketegangan yang terakhir adalah masalah Laut Cina Selatan. Akibat latihan militer Cina di Laut Cina Selatan, Amerika mengirimkan kapal induknya ke Laut Cina Selatan. Armada tempur AS bersiap siaga di Laut Cina Selatan bahkan mengirimkan pesawat pembom B52 dari markasnya di Amerika, dan hal ini di balas dengan sikap Cina yang menyiapkan rudal anti pesawat udaranya. Pemerintah Trump juga berupaya mengusir perusahaan-perusahaan Cina dari lantai Bursa Amerika seperti yang di lakukan terhadap Huawei.

Gold Trading

Karena semua hal ini, akhirnya Cina mulai membangun kekuatan, tidak hanya di bidang politik dan pertahanan melainkan juga di bidang ekonomi dengan membuang Dolar AS dan menggantikannya dengan Emas sebagai patokan nilai mata uangnya dan mempromosikan Yuan sebagai mata uang dunia yang setara dengan Dolar AS. Salah satu cara untuk melepas ketergantungan Cina terhadap Dolar AS yaitu dengan melepas obligasi AS. Cina, sebagai pemegang obligasi AS terbesar, telah melepas kepemilikan obligasi AS sejak perang dagang terjadi di tahun 2018. Sampai April tahun 2019, sekalipun sudah mulai berkurang obligasi AS yang di pegang Cina, namun saat itu, Cina tetap menjadi pemegang obligasi AS yang terbesar yaitu sebesar US$1.11 Trilyun. Namun setahun kemudian, kepemilikan Cina atas obligasi AS mulai terus menyusut ke US$1.07 Trilyun sehingga Cina tidak lagi menjadi pemegang obligasi Amerika terbesar. Jepang menggantikan Cina sebagai pemegang obligasi Amerika Serikat terbesar dari US$1.06 Trilyun pada April 2019 menjadi US$1.27 Trilyun.

Amerika tidak takut dan tidak merasa rugi karena ketika Cina melepas obligasi AS, banyak negara lain yang menginginkannya seperti Jepang dan Inggris. Amerika malah menganggap, jika Cina membuang Dolar AS ke pasar maka persediaan Dolar AS melimpah dan akan membuat Dolar AS melemah sehingga akan membuat barang-barang produksi Amerika lebih murah dan lebih kompetitif di pasar Amerika di bandingkan barang impor. Jika ini terjadi, maka upaya Cina untuk membuang Dolar AS malahan akan menjadi pukulan balik bagi Cina sendiri.