Emas Tergelincir Ke Zona Merah Bursa Global

JAVAFX –  Pada perdagangan di bursa komoditi logam, emas turun selama dua hari berturut-turut di hari Jumat (28/02) di Asia meski bursa saham global terus melemah di kala infeksi virus corona yang menyebar dengan cepat di seluruh dunia kini telah menghancurkan harapan bahwa Covid-19 dapat dikendalikan di Cina pupus sudah.

Emas Berjangka untuk penyerahan April turun sebesar 0,1% di $1,640.70.

Gold Trading

Harga emas mengurangi beberapa kenaikan sebelumnya di minggu ini karena pelaku pasar mulai membukukan keuntungan setelah logam kuning ini diperdagangkan pada level tertinggi dalam tujuh tahun.

Terlepas dari jeda pergerakan itu, banyak yang memperkirakan logam kuning tak lama lagi akan kembali menguat ke tingkat tertinggi di level $1.700 per ons.

Emas akan didukung oleh ketakutan pandemi, bank sentral dan stimulus pemerintah, kecemasan perdagangan, serta ketidakpastian politik. Emas akan mengincar posisi level $1.700 per ons selama beberapa minggu ke depan lantaran semakin memburuknya wabah virus.

Pasar saham di Asia melemah tajam hari ini, dengan saham-saham di Jepang dan Cina anjlok lebih dari 4%. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa wabah virus berpotensi meluas ke seluruh dunia.

Bursa saham di AS juga jatuh sekitar 3%, penurunan selama enam hari berturut-turut setelah Gubernur California Gavin Newsom mengatakan negara bagiannya sedang memantau 8.400 orang yang menunjukkan gejala terkena virus.

Sementara itu, pasar akan memperhatikan kebijakan Federal Reserve di bulan depan. Bank sentral AS kemungkinan akan terpaksa mengeluarkan lebih banyak kebijakan pelonggaran, termasuk pemotongan suku bunga, untuk melindungi ekonomi AS dari dampak virus tersebut.

Penyebaran wabah virus yang memburuk kini membuat pasar keuangan meyakini bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pinjaman di bulan depan, dengan peluang sebesar 9% hanya seminggu yang lalu.

The Fed baru saja mengakhiri siklus pelonggaran pada bulan Desember lalu setelah memangkas suku bunga selama tiga bulan beruntun.

Virus ini sekarang menyebar lebih cepat di luar Cina daripada di dalam, memicu kekhawatiran bahwa dampak ekonomi dari pembatasan perjalanan, gangguan rantai pasokan dan penurunan permintaan mungkin jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Upaya untuk menahan wabah telah melumpuhkan sebagian besar ekonomi China, yang perlahan-lahan kembali normal. Ada kekhawatiran bahwa negara-negara lain dapat menghadapi masalah yang sama dengan penyebaran virus di seluruh dunia.

Angka menunjukkan sekitar 10 negara melaporkan kasus virus pertama dalam 24 jam terakhir, termasuk Nigeria, negara terpadat di Afrika dan kasus pertama di sub-Sahara Afrika.