Yen Bersinar Ketika Menjadi Lonjakan Permintaan Safe Haven

JAVAFX – Yen terpantau menguat terhadap greenback mencapai posisi tertinggi dalam satu bulan pada perdagangan mata uang utama di hari Jumat (28/2) sore, ditengah kekhawatiran penyebaran virus corona yang terus meluas hingga seluruh dunia yang membuat pasar keuangan global merana.

Dilansir dari Reuters, di kala infeksi virus corona yang menyebar dengan cepat di seluruh dunia kini telah menghancurkan harapan bahwa Covid-19 dapat dikendalikan di China pupus sudah karena negara-negara di dunia sudah mulai menimbun peralatan medis dan pelaku pasar berusaha mengalihkan asetnya ke tempat yang lebih aman di tengah ekspetasi resesi global.

Gold Trading

Pasar uang kini meyakini bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pinjaman di bulan depan dan yen yang banyak tertekan karena aksi jual pada seminggu lalu kini telah bangkit kembali.

Bursa saham global terus menghadapi tekanan jual akibat kekhawatiran covid-19 telah menciptakan sentimen resesi. Normalisasi ekonomi global berisiko terhempas oleh Covid-19 sementara kerentanan keuangan di sektor utang perusahaan berada di ambang potensi yang dapat menimbulkan krisis utang di seluruh dunia.

OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) menjelaskan bahwa organisasi internasional ini menekankan laporan tentang pasar obligasi korporasi dan bagaimana sifatnya yang berbahaya secara struktural berisiko terhadap stabilitas keuangan global. Pada akhir 2019, utang perusahaan global mencapai titik tertinggi sepanjang masa di $13,5 triliun. Katalis di balik lonjakan penerbitan obligasi korporasi dikaitkan dengan kondisi utang menguntungkan yang diberikan oleh kebijakan moneter yang ekspansioner.

OECD memperingatkan karena sifat genting dari pasar utang ini, penurunan dapat memicu terjadinya goncangan default dan memicu atau memperdalam resesi.

Yen naik 0,5% ke level tertinggi dalam satu bulan di $109,03 terhadap greenback. Pergerakan itu menekan dolar menuju pekan terburuknya terhadap mata uang Jepang selama lebih dari tiga tahun.

Yen melonjak karena investor melepas mata uang kawasan yang sensitif dengan Cina. aussie melemah 0,5% ke level terendah pada greenback, tetapi anjlok dua kali lipat terhadap yen.

Aussie terakhir ada di $0,6535 dan ¥71,31.

Pada tahun itu, perusahaan-perusahaan non-keuangan meminjam penerbitan obligasi korporasi sebanyak $2,1 triliun, meski kualitas utang keseluruhan dari kewajiban hutang ini telah menurun signifikan. Obligasi yang baru diterbitkan memiliki jangka waktu yang lebih panjang, batas pembayaran yang lebih tinggi dan perjanjian yang lebih lemah. Istilah terakhir mengacu pada kondisi yang harus dipenuhi peminjam untuk mendapatkan dana yang diinginkan.

Akibatnya, baik bank pemberi pinjaman dan para peminjam sekarang lebih terpapar pada perubahan yang merugikan dalam kondisi pasar atau dari guncangan ekonomi – seperti virus covid-19 – yang dapat menghambat kemampuan para peminjam untuk membayar hutang mereka. Apa yang disebut perjanjian pinjaman – yang sekarang juga disekuritaskan menjadi kewajiban pinjaman yang dijamin atau CLO – merupakan pangsa pasar yang tumbuh dari utang perusahaan.

Jika tingkat default melonjak, krisis utang di seluruh dunia dapat terjadi karena pinjaman antar bank membeku. Sama seperti apa yang terlihat dalam kehancuran finansial besar terakhir pada 2008, minat risiko untuk aset yang berorientasi pada pertumbuhan runtuh sementara permintaan untuk aset yang sangat likuid dan anti-risiko.