Iran Siapkan 13 Skenario Untuk Balas AS

JAVAFX – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menolak membalas serangan Iran, ternyata belum mampu meredakan ketegangan dengan Iran. Pada hari Minggu (12/1), sebuah roket kembali ditembakkan ke markas pasukan koalisi yang dipimpin AS di Irak Utara.

Pemerintah Amerika Serikat dan Iran telah berjanji sebelumnya bahwa ingin mengurangi ketegangan antar kedua negara tersebut. Selain Presiden Amerika Serikata (AS) Donald Trump, keinginan de-eskalasi tensi ketegangan juga sempat diutarakan Presiden Iran Hassan Rouhani di sela-sela kunjungannya ke Qatar, akhir pekan lalu.

Gold Trading

Sebelumnya, Iran mengaku akan membalas dendam ke AS setelah salah seorang pimpinan militernya, Jenderal Qasem Soleimani, tewas dalam serangan AS di Bandara Internasional Baghdad 3 Januari lalu. Iran mengaku ada 13 skenario pembalasan ke negara adi kuasa itu.

Pada Minggu (12/1), sebuah roket menyerang markas pasukan koalisi yang dipimpin AS di Irak Utara. Meski belum ada pengakuan resmi dari Iran, AS menuding serangan dilakukan kelompok milisi yang didukung Iran di Irak.

Dimana pada lokasi kejadian, ditemukan serpihan roket jenis Katyusha tersebut mendarat di pangkalan udara Al-Balad. Pangkalan udara ini merupakan rumah bagi pesawat F-16.

Saat peristiwa terjadi Al-Balad tengah mengadakan acara yang mengundang kontingen kecil Angkatan Udara AS serta sejumlah kontraktor pemeliharaan pesawat militer. Peristiwa ini melukai 4 orang, di antaranya dua perwira Irak dan dua penerbang dan setidaknya terdapat 15 tentara AS dan satu pesawat di Al-Balad. Akibat serangan ini sejumlah tentara dan pekerja AS dievakuasi. Sekitar 90% penasehat AS dan karyawan (kontraktor) telah mengungsi ke Taji dan Erbil setelah ancaman ini.

Di akhir pekan lalu, roket juga menghantam Zona Hijau di ibu kota Irak Baghdad. Zona hijau merupakan zona internasional, bukan hanya militer AS, di wilayah tersebut terdapat pula kedutaan besar banyak negara.
Iran ngamuk ke AS setelah salah seorang pimpinan militerrnya, Jenderal Qasem Soleimani, tewas dalam serangan AS di Bandara Internasional Baghdad 3 Januari lalu. Iran mengaku akan membalas dendam ke negara adi kuasa itu. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari Iran apakah roket ini ditembakkan pasukan resmi mereka atau kelompok paramiliter yang mendukung Iran.

Sementara itu, Jumat (10/1/2020), sebuah serangan terjadi di Suria bagian Timur yang menewaskan tentara paramiliter Irak Hashed al-Shaabi. Sebuah rudal tak teridentifikasi menargetkan kendaraan dan tentara di wilayah Abu Kamal dan menyebabkan ledakan yang sangat besar. Setidaknya delapan orang tentara Hashed terbunuh.

Tak terkecuali saat prosesi pemakaman Soleimani Senin lalu. Meski bukan resmi pernyataan negara, dalam pidato pemakamannya, dibacakan seruan yang menawarkan hadiah bagi siapapun yang bisa mendapatkan kepala Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

“Dan kami akan memberikan US$ 80 juta … sebagai hadiah pada siapapun yang bisa membawa kepala dari seseorang yang telah memerintahkan membunuh tokoh revolusi kita,” ujar orang tersebut sebagaimana ditulis media Inggris, Express, Senin (6/1/2020).

“Siapapun yang bisa membawa kepala orang gila berambut kuning, akan kami berikan US$ 80 juta atas nama negara besar Iran. Bersoraklah jika setuju.”

Tokoh parlemen Abolfazi Abutorabi juga dikabarkan mengancam akan menyerang Gedung Putih sebagai tanggapan atas pembunuhan Soleimani.

Kelompok paramiliter Hashed merupakan kekuatan semi militer dikenal dekat dengan Iran. Hashed diakui sebagai bagian resmi dari militer Irak karena berpengaruh dalam membasmi ISIS di Irak dan Suriah.

Bahkan dalam serangan AS yang menewaskan Jenderal Iran Soleimani, wakil kelompok ini juga ikut menjadi korban. Deputi Hashed, Abu Hahdi al-Muhandis tewas dalam serangan yang dilancarkan AS di Bandara Internanational Baghdad itu.