Ketua Fed, Kevin Warsh Bakal Hadapi Drama Suku Bunga

0
29
Kevin Warsh, Ketua Fed

Javafx.news – Ketua baru Federal Reserve, Kevin Warsh, kemungkinan bakal langsung menghadapi drama besar soal kebijakan suku bunga AS.

Di tengah inflasi yang masih panas dan yield obligasi AS yang terus naik, Warsh kabarnya tetap ingin mendorong penurunan suku bunga. Masalahnya, banyak pejabat The Fed justru belum setuju untuk buru-buru memangkas suku bunga. Beberapa anggota Federal Open Market Committee (FOMC) bahkan masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan kalau inflasi belum benar-benar turun.

Kalau sebelumnya hanya Gubernur Stephen Miran yang terang-terangan mendukung pemotongan suku bunga, sekarang situasinya jadi lebih menarik karena ketua baru The Fed sendiri punya pandangan berbeda dengan sebagian besar anggota lainnya. Orang-orang yang sudah lama mengenal Warsh bilang dia tipe yang cukup keras mempertahankan pendapatnya. Dia sering mengambil keputusan berdasarkan pandangannya sendiri terhadap kondisi ekonomi. Tapi masalahnya, kondisi sekarang kurang mendukung argumen untuk memangkas suku bunga.

Mantan Presiden Fed Cleveland, Loretta Mester, bilang bahwa saat ini inflasi masih jadi masalah utama. Jadi akan sulit bagi Warsh untuk meyakinkan pasar dan anggota The Fed lain kalau pemotongan suku bunga memang diperlukan sekarang. Inflasi yang masih tinggi memang jadi tantangan pertama dan terbesar untuk Warsh. Secara resmi, Warsh juga sejalan dengan pandangan pemerintahan Trump yang menganggap lonjakan inflasi sekarang hanya sementara. Mereka percaya inflasi bisa turun lagi kalau konflik Iran mereda dan produktivitas ekonomi meningkat.

Tapi market sekarang mulai skeptis dengan narasi itu karena inflasi sudah berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Drama internal The Fed juga makin panas setelah rapat terakhir di akhir April. Tiga anggota FOMC sampai menolak isi pernyataan kebijakan The Fed.

Salah satu kalimat yang diperdebatkan adalah sinyal bahwa langkah berikutnya kemungkinan pemotongan suku bunga. Investor langsung menangkap itu sebagai sinyal dovish dari The Fed. Nah, Warsh justru bisa memakai momen ini untuk mengubah cara komunikasi The Fed. Dia selama ini memang dikenal tidak suka terlalu banyak “forward guidance” atau bocoran arah kebijakan bank sentral ke depan. Menurut ekonom Wrightson ICAP, Lou Crandall, perdebatan internal seperti ini sebenarnya hal biasa di The Fed dan bisa menghasilkan keputusan yang lebih baik. Warsh juga kemungkinan bakal mencoba membuat komunikasi The Fed lebih netral supaya pasar tidak terlalu cepat menebak arah kebijakan berikutnya.

Tapi tantangan Warsh belum selesai. Presiden Donald Trump sejak awal jelas ingin suku bunga lebih rendah. Kalau Warsh gagal menurunkan suku bunga, hubungan mereka bisa memanas seperti era Jerome Powell dulu. Dulu Trump dan Powell sering bentrok soal kebijakan suku bunga, bahkan sampai ada serangan pribadi dan konflik terbuka antara Gedung Putih dan The Fed. Karena itu, banyak analis penasaran: apakah Warsh nantinya bakal tetap mengikuti keputusan mayoritas The Fed walaupun sebenarnya dia ingin memangkas suku bunga?

Menurut para pengamat internal The Fed, kemungkinan besar iya. Sebab kalau Warsh terlalu terbuka menunjukkan bahwa dia kalah voting di rapat pertamanya sebagai ketua, itu justru bisa melemahkan kredibilitasnya sendiri di mata market.

baca juga;
https://www.javafx.co.id/news/usd-chf-bullish-data-as-kuat-kevin-warsh-perkuat-dolar
#tradingajadulu